FILM FILM TENTANG PENEBUSAN DOSA MANUSIA (DITERBITKAN DALAM MEMPERINGATI PASKA)

Kiriman: AFER MALANGUNA, JAKARTA

Afer Malanguna

DALAM rangka memperingati Hari Paskah, yang telah berlangsung 10 April lalu, Majalah Times, membeber 10 judul film yang bercerita tentang Yesus dalam kultur pop (masa kini) namun masih terus dikenang dan selalu hadir pada hari-hari besar Kristiani, seperti Paskah dan Natal. Film-film ini memang bukan lagi film baru sejenis Passion Of The Christ yang dibuat tahun 2004 silam. Tapi banyak film yang rata-rata sudah berusia puluhan tahun. Berikut film-film tersebut, versi Times. [….]

Daftar film mengenai Yesus terbaik diawali film The King of Kings (1927) yang menjadi hit laris di Hollywood. Sukses film ini membuka kisah-kisah serupa berikutnya meski tak lepas dari pengaruh aktris Cecil B De Mille yang sedang naik daun. Cerita filmnya sendiri juga cukup mendukung. Demikian pula dengan seluruh kru yang ‘berpuasa’ dari hal-hal buruk sebelum film dirilis. Meski banyak film Yesus sepanjang akhir 1920-an hingga awal 1960-an, tak ada yang cukup untuk memiliki tempat di hati penonton. Hingga muncul The King of Kings (1961) yang dibintangi oleh Jeffrey Hunter. Keunggulan film ini terletak pada kehebatan Hunter sebagai pemeran utama, ditambah musik yang menggetarkan hati dan melodramatis.

Kesan itulah yang memperkuat film tersebut. Tak lama kemudian, muncul The Gospel According to St. Matthew (1964) yang berbujet rendah. Sayangnya, penonton mengecam orang berada di balik pembuatan film itu, yakni Piere Paolo Pasolini yang homoseksual atheis penganut Marxisme. Meski demikian, filmnya cukup menggambarkan pengorbanan Sang Kristus dari sisi yang lebih gelap.
Film selanjutnya dibuat pada 1973, Godspell yang merupakan saduran dari format teater. Genre ini kemudian menginspirasi sutradara kondang AS, Tim Rice, dan Andrew Llyod Webber untuk melakukan hal serupa. Film ini tenar karena tokoh Yesus digambarkan terlalu ramai dan seringkali dikatakan sangat 1970-an.
Gospel Road berada dalam daftar selanjutnya, karena sukses mempelopori film musikal mengenai Yesus. Film ini diproduksi di Israel oleh musisi tenar Johnny Cash dan istrinya June Carter Cash. Penonton umumnya tertarik dengan kesederhanaan film yang disutradarai Robert Elfstrom dan istrinya sebagai Yesus dan Maria Magdalena. Demikan pula dengan soundtrack film yang diisikan oleh Cash yang dibantu berbagai peyanyi country.

Selanjutnya adalah Jesus of Nazareth (1977), sebuah miniseri berdurasi 6 jam 26 menit. Produksi Franco Zeffirelli ini dibuat dalam rangka Paskah. Dukungan bintang ternama seperti Anne Bancroft, Laurence Olivier, Olivia Hussey, dan banyak lagi merupakan keunggulannya.

Film Yesus pada dekade 1970-an ditutup dengan Monty Python’s Life of Brian(1979). Film tersebut mengisahkan seseorang berkebangsaan Israel yang keliru disangka Yesus dan akhirnya disalib. Film ini banyak menonjolkan sisi Timur Tengah, namun demikian banyak mendapat protes dari penganut Yahudi di Hollywood.

The Last Temptation of Christ (1988) juga mendapatkan tempat, namun lebih karena sutradara besar yang berada di belakangnya. Martin Scorsese, dengan bujet US$ 6 juta, menciptakan sesuatu yang fenomenal walaupun kisahnya adaptasi dari novel bertajuk sama. Meski berbakat, sutradara yang satu ini jarang diganjar penghargaan. Dalam film ini, tokoh Yesus diperankan oleh aktor watak tenar, Willem Dafoe.

Sementara itu, pada era millenium, satu-satunya film mengenai Yesus yang paling banyak dibicarakan adalah The Passion of the Christ (2004). Aktor sekaligus sutradara berbakat Mel Gibson mengabadikan 24 jam terakhir dalam hidup Yesus, termasuk momen the last supper.
Tak tanggung-tanggung, sutradara asal Australia mendaulat para pemerannya untuk berbahasa Aramaik kuno. Termasuk aktor Jim Caviezel sebagai Yesus dan Monica Belucci sebagai Maria Magdalena. Ia bahkan memboyong krunya ke Italia dan menghabiskan US$ 30 juta demi film ini. Hasilnya, mereka mengantongi US$ 371 juta dari AS saja dan tambahan US$ 241 juta dari wilayah lainnya.

Terakhir, bukan lagi manusia yang memerankannya, melainkan kartun. South Park: Fantastic Easter Special yang dirilis pada 2007. Unik, sebab tak hanya fokus pada Jumat Agung saja, kartun ini juga memberikan perhatian pada Minggu Paskah.

FILM JESUS DI KONGO
Di Republik Demokratik Kongo, ada banyak orang yang belum pernah mendengar tentang Yesus sampai sekarang. Dalam menyambut Paskah tahun ini, sebuah kelompok relawan Amerika Serikat merayakan liburannya dengan menayangkan film JESUS ke Budu-Koya, Budu-neta, Lika, Mangbetu dan kelompok masyarakat Mayogo, Kongo Timur. “Jalan-jalan dalam rangka hari raya Paskah sudah tentu lebih khusus karena kita membagikan pesan salib,” kata Anderson Ohman, yang akan berkunjung ke Kongo dengan anaknya yang berusia 17 tahun.

Menurut berita rilis dari DeMoss Group, dari 11-25 April 2009, delapan kelompok relawan akan melakukan perjalanan sebagai bagian proyek film JESUS. Kelompok relawan berusia antara 17-46 tahun, akan hadir dalam film JESUS selama 15 kali diputarkan di kota-kota yang sudah menjadi target dari proyek pemutaran film ini. kelompok relawan ini juga akan berkoordinasi dengan gereja lokal untuk menindak lanjuti proyek yang diselenggarakan di kota dimana film JESUS diputar.
“Dengan sejarah panjang kekerasan dan perang di Republik Demokratik Kongo, salah satu konsep fana bagi masyarakat disana adalah pengampunan,” kata Robert Newkirk, yang akan memimpin grup. “Rekonsiliasi dengan musuh adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh tangan manusia tetapi hanya oleh Allah. Keinginan kami adalah bahwa perjalanan ini akan menjadi bagian dari proses penyembuhan untuk Republik Demokratik Kongo.”

Menurut rilis berita yang dikirimkan DeMoss Group, film JESUS pertama kali diedarkan pada tahun 1979 oleh Warner Brothers. Film berdurasi 2 jam ini diperkirakan merupakan film yang paling berpengaruh dalam sejarah film abad ini. Film JESUS telah ditayangkan dalam 1000 bahasa (bahkan lebih) sejak film itu diputarkan pertama kali dan 6 miliar orang yang dibukakan mengenai kasih Yesus dan juga pengetahuan tentang dunia film. “Melalui proyek film JESUS, para pekerja mengerjakannya ke internasional untuk membawa film YESUS kepada orang-orang di seluruh dunia dalam bahasa mereka dapat memahami dan di tempat yang dekat dengan tempat mereka tinggal,” berdasarkan rilis berita DeMoss Group.
Awal mulai kehadiran pelayanan proyek memperkenalkan Yesus melalui film yakni bermula dari mimpi Bill Bright, seorang visioner yang bermimpi untuk membuat sebuah karya artistik yang sangat baik, film yang sesuai dengan Alkitab tentang kehidupan Yesus Kristus yang dapat diterjemahkan dan didistribusikan secara global.
Sebuah kelompok yang terdiri dari 500 sarjana dan pemimpin-pemimpin baik dari organisasi Kristen maupun sekuler akhirnya bergabung dalam proyek ini dan film JESUS mulai ditayangkan di bioskop-bioskop Amerika. Sejak dimulai, film YESUS telah dibuat dalam format cetakan 8mm, 16mm dan 35mm, VHS, VCD dan DVD.
Bill Bright dikenal sebagai salah satu pendiri Campus Crusade for Christ (di Indonesia dikenal dengan nama Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia, red) dan proyek film JESUS ini merupakan salah satu bentuk pelayanan yang telah dilakukan di hampir banyak negara di dunia.