Pariwisata Sulawesi Utara

DARI DISKUSI TERBATAS PARIWISATA “SYNERGI TALK”
Pariwisata Sulut, Mutiara yang Hilang

robert-lumempouw

Robert J. Lumempouw

KETIKA tahun 1998 lalu, diera kepemimpinan Gubernur EE Mangindaan, pemerintah mencanangkan Sulawesi Utara sebagai Gerbang Pariwisata Dunia, Icon yang dijual saat itu, selain TLN Bunaken yang namanya memang sudah mendunia Sulut juga mencoba menjual objek wisata Danau Tondano. Jadilah, Festival Bunaken – Danau Tondano (Fesbudaton). Menyusul itu, Sulut membuat produk baru yang nyaris laku –hanya popular di masa Sondakh (alm)– yaitu objek wisata religius, Bukit Kasih Kanonang. Stakeholders dan segenap rakyat Sulut dibuat bergerak waktu itu. Hasilnya cukup mencengangkan bahwa sepanjang tahun 2002-2005, wisatawan yang berkunjung ke daerah yang berslogan “Kasih tanpa Kekerasan” itu mendekati angka 1 (satu) juta orang.
Kini, ketika kepemimpinan beralih ke Drs SH Sarundajang sebagai Gubernur Sulut hingga tahun 2010, kitapun ketambahan satu objek wisata yang paling berharga, yakni Objek Wisata “Perhatian”. Hampir seluruh tempat wisata di Sulut kini mulai disentuh. Otomatis ini akan menambah perbendaharaan tempat-tempat yang pantas dikunjungi selama para wisatawan itu stay di Sulawesi Utara.
Hanya saja, perhatian ini jangan hanya karena kepentingan tertentu. Akan tetapi, jadikan pariwisata ini menjadi produk unggul yang benar-benar memberi nilai tambah bagi masyarakat, sehingga dalam hidup mereka akan tumbuh rasa memiliki. Dan, pemerintah (seharusnya) yang memulai.

Berdasarkan analisis SWOT bahwa sebenarnya di daerah berjulukan Kota Nyiur Melambai ini, lebih banyak keunggulan/kekuatannya dibanding kekurangannya.Hanya saja berbagai potensi ini belum digarap secara professional, sehingga nyaris menenggelamkan promosi pariwisata di daerah yang sama kita banggakan.
Beberapa waktu lalu, dalam diskusi terbatas yang dilaksanakan Tim Synergi, di meeting room, Sky – Dine & Lounge, Jalan Akhmad Yani Manado, yang membahas reformasi kelembagaan untuk menjamin keberlangsungan (sustainability) pertumbuhan ekonomi khususnya bidang kepariwisataan, diperoleh jawaban bahwa Sulut sepertinya belum siap.
Melihat fenomena ini, kecerdasan pemimpin daerah diuji. Sarundajang sudah dengan cerdasnya memasukkan aspek pariwisata dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Propinsi Sulawesi Utara tahun 2005-2010 sebagai salah satu program unggulan daerah ini, dalam memicu akselerasi di berbagai bidang usaha.

bunaken-11

Pemandangan bawah laut Bunaken

Sektor pariwisata di Sulut tak bisa disangkal bila dikelola benar dan simultan –paling tidak diberi perhatian yang cukup—dapat dipastikan akan memberikan multiplier effect dalam berbagai sektor.
Kekayaan keunggulan ini diharapkan dapat memicu masuknya devisa di Sulut, diantaranya objek-objek wisata yang beragam, masyarakatnya yang bisa menerima berbagai kalangan (smiling people), objek wisata unik (tarsius, ikan purba coelacanth, air panas), wisata kuliner, kekayaan budaya, alam yang asri (Danau Tondano, Pantai Moinit, Pantai Lakban, Bunaken) juga objek wisata agrowisata (bunga-bunga khas Tomohon).
Melihat strong point ini, forum diskusi sepakat memberi konten mendasar bahwa pemerintah sudah selayaknya memberi perhatian khusus guna menggerakkan sektor ini, terutama pembangunan sarana prasarana agar akses ke kawasan dimaksud bisa dijangkau dengan mudah. Strong point dalam hal keberanian Gubernur Drs SH Sarundajang mengagendakan pelaksanaan World Ocean Conference dan Coral Triangle Initiative (CTI) Sumit pada 11-15 Mei 2009 dan pencanangan Manado sebagai Kota Pariwisata Dunia (MKPD), diharapkan juga bisa menjadi magnet awal untuk menarik para wisatawan berkunjung ke daerah ini. Menarik investor untuk menanamkan modalnya dalam pengembangan objek-objek wisata yang khas dan unik di daerah ini. Dan, terutama bisa meyakinkan pemerintah pusat untuk membantu mendukung pengembangan pariwisata di Sulawesi Utara.
Sulawesi Utara memang harus mengakui sejumlah kekurangannya bahwa selain posisi yang jauh dari pusat pemerintahan (Jakarta) dan menyebabkan biaya tinggi, juga karena akses dari dan ke daerah-daerah tujuan wisata yang sudah lebih menjual seperti Bali, masih kurang. Kemudian soal regulasi. Ketidakberpihakan pemerintah yang dapat tercermin dari kurangnya Perda yang memberikan kepastian berinvestasi dalam bidang pengembangan kepariwisataan, telah membuat kurangnya investor yang berminat menanamkan modalnya pada sektor ini. Kondisi ini mengakibatkan beberapa kawasan wisata Sulut jadi kurang diminati para wisatawan. “Ibarat gelas, orang menjadi tak suka memakainya karena kotor,” sebut Sutomo Palar, pengamat ekonomi, yang memang terkenal kritis dalam mencermati stakeholders lebih khusus tentu, yang berkaitan dengan pembangunan perekonomian di daerah ini.
Selain itu, kurangnya pengembangan spesifikasi Sulut seperti kekayaan budaya yang dibangun oleh Bali dengan berbagai hasil karya dan budayanya yang telah tertata rapi, membuat daerah kita kurang menarik dikunjungi.

foto-maengket

MAENGKET, salah satu kekayaan budaya Minahasa

Padahal kita punya Kabasaran, Maengket, Musik Bambu, Pesta Adat Pinabetengan (Minahasa), Mane’e, Masamper, Tulude (SaTal), Tarian Sabela, Talibombang dan Motoayok (Bolmong), Festival Bitung Tatawa (Bitung), Toah Peh Kong, Lampion Festival, dan Karnaval Figura (Manado), Festival Gunung Klabat (Minut), Sawak’ka (Talaud), Manulude/Mandullu-U Tona, Festival Musik Bambu (Minahasa Selatan), Pesta Labuhan di Pantai Bentenan (Mitra), dan masih banyak kekayaan budaya kita. Pengelolaan produk spesifik daerah juga kita belum punya. Padahal di Minahasa saja kita punya Desa Pulutan, di Kecamatan Remboken. Punya eceng gondok di Tondano juga Rumah Woloan di Tomohon dan kerajinan bahan turunan kelapa yang tersebar di beberapa daerah di Minahasa.
”Kita memang sudah harus memikirkan mengembangkan produk-produk daerah yang tidak dimiliki daerah lain. Karena prinsip pariwisata adalah menjual yang tidak dimiliki daerah lain,” jelas Jack Parera, pengamat ekonomi dan sosial kemasyarakatan, dalam perbincangan dengan Cahya Siang, beberapa waktu lalu.

robert-j-lumempouw-deng-maitua

Robert “Robby” Lumempouw bersama Istri tercinta, Sheila Salomo ketika memberikan kesaksian di hadapan jemaat.

Satu lagi kelemahan kita yang paling mencolok, tambah Parera, adalah tidak terintegrasinya sejumlah kegiatan di daerah ini membuat perkunjungan wisatawan berkesan monoton.
Solusi serupa disampaikan Robert J. Lumempouw, pengamat sosial kemasyarakatan, bahwa kelemahan ini harus dibenah dari sekarang. Sifat masyarakat kita yang ”saru dutuk tamburi matak” (budaya instan) harus diubah mindset-nya. RJL –begitu profil ini akrab disapa—mencontohkan pengalamannya ketika berkunjung di Penang, Malaysia. Dalam tour itu, kita di bawa ke satu lokasi. Disana rombongan dipertontonkan bagaimana mengolah pala mulai dari cara membelah sampai pada diapakan buah pala dimaksud. ”Inikan kita nilai lucu. Tapi itulah pariwisata, kita harus kaya dengan kreatifitas,” jelas RJL.
Namun demikian, tambah RJL, kita belum terlambat. Yang penting kita mampu memanfaatkan potensi dan peluang, diyakini apa yang menjadi cita-cita dan keinginan masyarakat Sulawesi Utara pada umumnya pastilah akan tercapai. Ia mencontohkan berbagai peluang yang hingga kini belum dimanfaatkan dengan benar, seperti Bandar Udara Sam Ratulangi dan posisi geografis daerah ini yang persis berada di bibir pasifik, sehingga membuka akses kesejumlah negara maju.

bunaken-2

Ditambahkan, kita pun bisa memanfaatkan momentum penting di daerah ini yang sebentar lagi akan berlangsung yakni pelaksanaan pertemuan negara-negara yang memiliki wilayah laut, World Ocean Conference dan Coral Triangle Initiative (CTI) Sumit. “Kegiatan ini boleh jadi sebagai peluang guna meningkatkan promosi kita dalam memperkenalkan berbagai potensi dan keunikan daerah ini,” jelas RJL.
Jadi, sebenarnya peluang Sulut untuk mengembangkan potensi pariwisata memang masih terbuka lebar. Asal saja, kita punya kemauan dan ada rasa memiliki. Hanya saja, kata Ir Setly Tamod, dalam melaksanakan hal-hal tersebut kita memiliki banyak tantangan. Sebagai contoh, jelas putra asal Kabupaten Mitra yang baru saja menyelesaikan studi Doktornya itu, menyebut soal kepastian hukum bagi investor yang mau berinvestasi di daerah ini. ”Masalah PT Newmont Minahasa Raya (NMR) dan PT Meares Soputan Mining (MSM) telah menunjukkan ketidakmampuan daerah ini menyelesaikan masalah. Harusnya kita mampu menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah. Ingat, kita menghadapi banyak kompetitor, baik dalam negeri maupun mancanegara. Siapa yang mau berinvestasi bila akhirnya masalah yang didapatkan,” sebut Setly.
Memang, tambahnya, Sulut harus waspada dalam segala hal bila ingin daerah ini dibanjiri wisatawan. Sebab, selain berbagai kendala tersebut, kita pun masih diperhadapkan dengan masih adanya gangguan Kamtibmas yang timbul dimana-mana. Ancaman-ancaman ini diakui karena masih banyaknya pengangguran di daerah ini.
Ditambahkan, gejala kerawanan sosial lain seperti sering adanya demontrasi dengan berbagai alasan, telah membuat keengganan investor untuk bisa bertahan, menanamkan modalnya di kota ini. Program pemerintah dalam percepatan pertumbuhan sektor riil yang diyakini bisa mempercepat terakomodirnya angkatan kerja sudah selayaknya diperkuat. Sebab, bila program ini jalan, yang pasti pengangguran akan berkurang dan pada akhirnya demonstrasi yang memanfaatkan para “penganggur” akan berkurang volumenya.
Kendala lain, kurangnya objek wisata yang layak dikunjungi telah menjadi ancaman tersendiri di Sulawesi Utara. Taman Laut Nasional (TLN) Bunaken yang menjadi salah satu icon objek wisata turis internasional, tidak cukup menarik lebih banyak wisatawan asing dan domestik jika tidak diimbangi perbaikan infrastruktur penunjang pengembangan objek wisata lain sebagai alternatif. Sulawesi Utara ke depan perlu memprioritaskan dan mewujudkan salah satu backbone ekonomi dengan menciptakan industri pariwisata yang berkelanjutan. (CS/Wilson Lumi)

Advertisements

2 thoughts on “Pariwisata Sulawesi Utara

    • Jangan mimpi. Selama kebijakan masih terpusat di pusat (pemerintah pusat) sulit bagi daerah untuk bisa secepatnya membangun wilayahnya sendiri. Bali, karena udah dari dulunya begitu. Udah sejak jaman Presiden Sukarno, udah kesohor. Nah, untuk Sulawesi mau ake apa untuk kejar Bali. Objek Wisatanya juga budayanya, boleh lebih baik dari Bali, tapi memperlengkapi segala kebutuhan para turis yang ingi berlama-lama di suatu daerah, misalnya soal akomodasi, transportasi, dan yang berkaitan dengan investor yng mau membangun pariwisata di daerah…… banyak yang dihambat pemerintah pusat, dan masih banyak lagi

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s