Tarsius Spektrum (Tangkasi)

Tarsius Jangan Sampai Punah

tarsiuus-sepektrumBITUNG – Lansekap Tangkoko Duasudara (LTD) yang terletak di Kota Bitung, Sulawesi Utara, merupakan salah satu kawasan alam terakhir yang menawarkan suaka bagi penyusun alam hayati Sulawesi. Di LTD yang memiliki nilai sejarah alam penting ini, terdapat berbagai jenis satwa endemik. Endemik artinya satwa hanya dapat ditemukan di Sulawesi, tidak di temukan di tempat lain.

“Kawasan cagar alam Tangkoko ini harus dipertahankan terus, dan tidak boleh diganti menjadi hutan lindung atau kawasan apapun dengan target yang tidak jelas. Tangkoko adalah aset sejarah alam dunia,” ujar Sulawesi Program Coordinator Wildlife Conservation Society (WCS), Indonesia Program, Johny Tasirin PhD.

Menurut Johny Tasirin, LTD memiliki […]nilai sejarah alam yang penting, karena di LTD terdapat terdapat berbagai jenis satwa, yakni 26 jenis mamalia (10 jenis endemik Sulawesi), 180 jenis burung (59 diantaranya endemik Sulawesi dan 5 endemik Sulut), dan 15 jenis reptil dan ampibi.

“Manguni (Otus Manadensis) yang menjadi simbol daerah Minahasa, ditemukan di LTD bersama 7 jenis manguni lainnya. Burung malam ini harus sharing habitat dengan belasan perambah malam lainnya termasuk tarsius, 7 jenis kelelawar,” ujarnya.

Di LTD hutan tropis juga membentang dari tipe hutan pantai sampai hutan pegunungan dengan variasi jenis tumbuhan yang cukup kompleks. LTD adalah rumah dari monyet hitam Sulawesi (Macaca Nigra ) dan Tangkasi (Tarsius Spectrum) yang adalah dua jenis primata asli Sulawesi Utara dengan nilai evolusi yang tinggi, kuskus beruang dan maleo yang berkerabat dengan satwa di Australia.

Di LTD terdapat empat kawasan konservasi yakni Cagar Alam Tangkoko, Cagar Alam Duasudara, Taman Wisata Alam (TWA) Batu Putih, dan TWA Batu Angus yang semuanya dikelola oleh Departemen Kehutanan.

Sehari sebelumnya, Johny hadir di Cagar Alam Tangkoko berdialog dengan Tim Ekspedisi Tangkoko, yang diprakarsasi Sulut Bosami Network. Kegiatan menjelajah sebagian Cagar Alam Tangkoko yang berlangsung selama dua hari (11-12 April 2008), diikuti sejumlah wartawan media cetak dan elektronik, peneliti, anggota Sulut Bosami Network, serta pemuda-pemuda yang tergabung dalam Kelompok Pencinta Alam Tarantula.

Selama di Tangkoko, peserta ekspedisi yang didampingi Dr Saroyo Sumarto, peneliti satwa liar di Sulut yang juga pengajar Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Unsrat Manado. Kegiatan ini diawali dengan diskusi tentang Tangkoko di alam terbuka, di kawasan Taman Wisata Alam Tangkoko.

Jumat (11/4) malam, Iwan Hunowu dari WCS, Indonesia Program dibantu anggota KPA Tarantula memasang jaring untuk menjerat kelelawar. Kelelawar yang tertangkap kemudian diidentifikasi bersama tim ekspedisi, kemudian dilepas kembali ke alam bebas.

Melihat Hantu
Belum puas rasanya jika berkunjung ke Tangkoko tanpa melihat Tangkasi. Tangkasi adalah nama lokal untuk Tarsius Spectrum. Binatang ini hanya ada di Sulawesi. Binatang yang tubuhnya hanya sebesar tikus ini merupakan primadona Tangkoko.

Tangkasi atau Tarsius adalah binatang nokturnal atau binatang malam. Waktu siang mereka tidur, malam-malam mereka berburu mencari makan. Oleh karena itu Tangkasi acap disebut sebagai binatang hantu. Wajahnya pun mirip hantu. Bentuk badannya kecil, mirip kera, tapi matanya besar. Saat siang, Tangkasi bersembunyi di balik dedaunan dan kerimbunan pohon. Begitu malam tiba mereka keluar dari sarangnya berburu kecoa, jenkerik, dan serangga kecil lainnnya. Matanya yang besar sangat tajam di kegelapan malam.

Sabtu (12/4) subuh, tim ekspedisi mengawali petualang dengan mencari binatang hantu ini. Tim bergerak mulai pukul 04.00 pagi. Setelah mendaki sekitar satu jam, peserta berhasil melihat dari dekat beberapa keluarga Tarsius, yang kembali ke pohon tempat tinggalnya. Usai melihat Tarsius, peserta melanjutkan penjelajahan dengan mencari dan mengamati puluhan monyet yang dikenal dengan sebutan yaki.

Koordinator Program Ekspedisi Tangkoko dari Sulut Bosami Network, Gina Kussoy menyatakan ekspedisi ini diharapkan dapat mendorong lahirnya pengelolaan kolaborasi kawasan konservasi Cagar Alam Tangkoko. (kmc/SON/002)

Monyet Terkecil di Dunia Ada di Cagar Alam Tangkoko

BITUNG — Segerombolan kera hitam khas Sulawesi berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Ada pula yang berjalan sambil mengais makanan di tanah basah. Setidaknya sekitar 20-an kera Macaca nigra ini seperti komunitas. Sebutan untuk rombongan kera ini adalah Rambo 1, begitu menurut penuturan salah satu peneliti yang sudah hampir setahun mengikuti tingkah laku mereka.

Penduduk sekitar menyebut kera itu dengan “yaki” yang hidup bebas di Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih dan Cagar Alam Tangkoko. Satwa ini hanya satu jenis dari jutaan satwa yang ada di kawasan konservasi Gunung Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Kawasan konservasi seluas 8.718 hektar ini meliputi empat tempat, yakni TWA Batuputih seluas 615 hektar, Cagar Alam Tangkoko-Batuangus seluas 3.196 hektar termasuk kawasan Gunung Tangkoko-Batuangus dan sekitarnya, CA Duasudara seluas 4.299 hektar termasuk Gunung Duasudara dan sekitarnya, dan TWA Batuangus seluas 635 hektar. Keempatnya berada di bawah pengelolaan Departemen Kehutanan, melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut.

Di kawasan konservasi yang menjadi incaran para peneliti satwa di dunia ini terdapat 26 jenis mamalia (10 jenis endemik Sulawesi), 180 jenis burung (59 di antaranya endemik Sulawesi dan 5 endemik Sulut), dan 15 jenis reptil dan amfibi.

Area konservasi ini yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah TWA Batuputih yang dapat ditempuh dengan mobil pribadi sekitar dua jam dari Manado. Melalui TWA Batuputih ini biasanya lebih dekat menuju kawasan Cagar Alam Tangkoko.

Anda dapat memakai bantuan guide sekaligus membayar donasi untuk konservasi ini minimal sekitar Rp 70 ribu. Ada beberapa guide dari penduduk lokal yang memang sudah terlatih menjelaskan dengan bahasa Inggris, terutama untuk turis mancanegara yang datang.
Kebanyakan turis yang datang mengagumi keanekaragaman satwa di wilayah konservasi ini, karena konon Sulawesi ini terkenal unik sebagai percampuran atau zona transisi dua wilayah zoogeografi yakni Asia dan Australia. Bisa dikatakan cagar alam Tangkoko ini rumah satwa Sulawesi yang signifikan.

Satwa yang bisa ditemukan di Tangkoko antara lain burung manguni (Otus manadensis) yang menjadi simbol daerah Minahasa, bersama tujuh jenis burung manguni lainnya. Menurut guide Tangkoko, Alfons Wodi, burung ini keluar pada malam hari dan berbagi habitat dengan hewan malam lainnya seperti tarsius, kelelawar dan musang Sulawesi.

Selain monyet hitam Sulawesi dan tangkasi atau tarsius, satwa khas Sulawesi lain yang mudah dijumpai di kawasan ini adalah kuskus beruang (Ailurops ursinus), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis), julang sulawesi atau burung rangkong (Rhyticeros cassidix), dan kangkareng (Penelopides exarrhatus).

Di kawasan konservasi satwa langka ini, Anda dapat melalui pos I di pintu masuk dimana Anda dapat menikmati pantai dan untuk mencapai Pos II dapat ditempuh dengan mobil. Sebelum mencapai Pos II Anda akan menjumpai hutan tropis sekunder dimana terdapat pohon dan beberapa tanaman pionir seperti sirih hutan, kayu bunga dan binunga.
Dari Pos II, Anda bisa memarkir mobil dan mulai berjalan menjelajah hutan dan akan bertemu dengan sekelompok monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra). Aneka suara burung juga akan terdengar bila semakin mendekat ke dalam hutan mulai dari Rangon, Kingfisher, merpati, dan masih banyak lagi.
Dari TWA Batu Putih ada batas untuk memasuki Cagar Alam Tangkoko, tetapi batas ini pun tak terlalu jelas karena hanya berupa dua tonggak dari pohon yang dipancangkan di kanan dan kiri.
Menurut Alfons, banyak perangkap yang ditemukan oleh petugas di kawasan konservasi itu. “Yah, kalau patroli itu dilakukan rutin pasti ada perangkap untuk kera atau pencurian kayu juga, tapi sayangnya batas cagar alam ini masih belum ada, jadi semua orang bisa keluar masuk,” ujar Alfons.
Aneka flora dan fauna yang dikagumi naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak untuk melestarikannya. Lebih baik mencegah kepunahan satwa lebih dini daripada generasi selanjutnya tak lagi bisa menyaksikan kekayaan hayati tempat ini. Semoga… (kmc/SON/002)

Sejuta Satwa Aset Dunia di Tangkoko
MARKING tag (penanda) berbentuk pita bertulis kode petunjuk jalur dan ketinggian itu, entah ada berapa banyaknya, tersebar di penjuru dahan pohon dalam rimbun cagar alam Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara. “Itu tanda-tanda yang dibuat para peneliti,” ujar Frangki, satu dari empat pemandu lokal yang membantu kami mencari monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) atau disebut yaki dalam bahasa lokal.
Saat matahari belum menampakkan sinarnya, saya bersama enam rekan fotografer pada kegiatan Exploring Celebes, merayakan 150 tahun Ekspedisi Wallace yang dimotori oleh National Geographic Indonesia dan Sony Indonesia, bergerak perlahan mencari posisi kelompok yaki yang baru turun ke tanah dari peraduannya di atas pohon. Selain kami dan para pemandu, di lokasi tempat gerombolan yaki yang kami temukan tampak dua peneliti asing asyik mengikuti pergerakan yaki sambil mencatat segala polah tingkah lakunya.
“Jumlah peneliti asing? Yah, kira-kira ada enam orang pada setiap musim (per enam bulan). Kebanyakan dari Eropa,” kata Simson, pemandu lainnya yang kerap dipakai para peneliti. “Kalau wisatawan asing, bisa ribuan per tahun. Mereka mau lihat yaki, tangkasi, juga burung-burung khas, satwa endemik di sini,” ujarnya.
Tangkoko memang populer di kalangan ilmuwan. Di tempat inilah Alfred Russel Wallace, seorang naturalis muda Inggris, pernah menapakkan kakinya sekitar tahun 1850-an dan terpesona dengan maleo (Macrocephalon maleo) dan babi rusa (Babyrousa babyrussa). Dari penelitian lapangan di Nusantara dalam kurun 1860-1860, Wallace mengamati penyebaran satwa, lalu mengenali dua wilayah biogeografi India dan Australia yang sangat berbeda. Ia membagi dua kelompok satwa dan menarik garis batas timur-barat yang hingga sekarang dikenal sebagai garis Wallace, dimulai dari selat antara Kalimantan dan Sulawesi, terus ke selatan antara Bali dan Lombok.

Pada tahun 1858, Wallace juga menulis kumpulan surat dan makalah yang memuat tentang teori evolusi melalui seleksi alam (walau tidak secara rinci disebutkan demikian) kepada Charles Darwin di Inggris (yang saat itu telah menjadi naturalis ternama di Inggris). Makalah ini kemudian memacu Darwin menerbitkan On The Origin of Species tahun 1859, yang memperkenalkan teori evolusi yang menggemparkan.
Sulawesi yang unik konon dikunjungi Wallace sebanyak tiga kali. Satwa di kawasan ini merupakan percampuran atau zona transisi dua wilayah zoogeografi, Asia dan Australia. Bagi konservasi biologi, proporsi jenis satwa endemik Sulawesi termasuk yang tertinggi di Indonesia. Cagar alam Tangkoko sendiri adalah salah satu rumah satwa Sulawesi yang sangat penting. Di kawasan konservasi seluas 8.718 hektar ini tercatat keberadaan 26 jenis mamalia (10 jenis endemik Sulawesi), 180 jenis burung (59 endemik Sulawesi dan 5 endemik Sulut), serta 15 jenis reptil dan amfibi.
Maleo dan babi rusa yang memesona Wallace kini sulit dijumpai di Tangkoko, demikian juga anoa (Bubalus depressicornis). Ketiga satwa endemik Sulawesi tersebut diduga telah punah akibat pemburuan dan perusakan habitat. Walau demikian, sejumlah satwa lainnya masih dapat ditemui di sini. Yaki, tangkasi (Tarsius spectrum), dan julang sulawesi atau rangkong (Rhyticeros cassidix) adalah tiga dari sejumlah satwa yang menjadi magnet pesona Tangkoko.
Entah telah berapa banyak ilmuwan dalam dan luar negeri yang telah datang demi kepentingan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan penelitian. Bila Tangkoko bisa dikatakan salah satu pusat keanekaragaman hayati yang sangat penting di dunia, jika satwa-satwa itu punah, tak hanya Indonesia, bahkan dunia pun kehilangan. (kmc/SON/002)
mamanya-tangkasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s