ETALASE HARIAN SORE CAHYA SIANG 2 MEI 2009

Nona Kawanua di Panggung PolitiK Daerah Lain

Wajahnya Cantik, Otak pun Cemerlang

dok-wilsonverna-inkiriwangPEMILU 2009 sudah berlalu, namun tak hanya kisah seputar kejanggalan dan kecurangan yang tertinggal di belakangnya. Pemilu April lalu menyisakan cerita indah soal kemampuan wanita berdarah Kawanua yang mendapat pengakuan di daerah lain.

Nona Kawanua memang terkenal dengan kecantikan plus kulitnya yang putih mulus. Tak heran bila belakangan kesan yang menyembul itu diartikan konotatif. Apalagi kini marak diberitakan kasus perdagangan wanita Minahasa ke kawasan Timur Indonesia kian menegatifkan profil wanita asal Sulut.

Tapi jangan salah, ternyata selain cantik-cantik, wanita Kawanua juga berotak cemerlang. Tak heran saat Pemilu barusan mereka jadi komoditi —bermakna positif tentunya— guna mengangkat popularitas sejumlah Parpol. Mendongkrak perolehan suara partai, wanita Kawanua yang berpenampilan menarik plus otak encer direkrut sebagai calon legislatif.

Yang paling dikenal tentunya Angelina Sondakh, kini telah resmi menjadi nyonya Adjie Massaid. Mantan Noni Sulut dokwilsonangelina-sondakhsekaligus Putri Indonesia ini lagi-lagi membuktikan kapasitasnya memenuhi kriteria 3 B —Beauty, Brain, Behaviour— karena kembali mulus duduk di kursi Senayan untuk kedua kalinya. Angie, begitu putri natan Rektor Unsrat, Lucky Sondakh ini disapa, jadi idola justru bukan di tanah kelahirannya. Dia adalah Caleg Partai Demokrat di Dapil Jawa Tengah VIII. Saat perolehan suara dihitung, Angie perkasa mendulang 145.159 suara mengungguli politisi lokal seperti Abdul Kadir Garning (Ketua DPP PKB Jateng) dan Sudjudi (PDIP).

Ada lagi nona fasung bernama Verna Gladies Merry Inkiriwang. Tahun 2007, Verna yang diusung mewakili Sulawesi Tengah di ajang Miss Indonesia meraih posisi runner up 2. Dari situ langsung ketahuan kapasitasnya. Kiprah politik Verna seiring sejalan dengan sang ayah, Piet Inkiriwang, pria Kawanua yang sukses jadi Bupati Poso.

Tahun lalu, nama Priscilla Yvonne Supit menjulang di pentas Miss Indonesia, karena menyabet runner up II dokwilsonpricila-supit1ditambah gelar Miss Kulit Terindah. Tahun ini, Priscilla muncul sebagai caleg Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) dari Dapil Jabar X untuk DPR propinsi, bernomor urut 3. Nona cantik ini juga terbukti pinter, karena jadi magnet bukan di daerah asalnya.

Setelah Angie, Verna dan Priscilla, masih ada deretan fasung lainnya, seperti Jennifer Franmina Taroreh, calon Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI) nomor urut 1 Dapil Jateng X yang membawahi Batang, Pemalang, Pekalongan. Juga ada putri pengusaha Kawanua yang sukses di Jakarta, Benny Tengker, yaitu Tanya Tilaar-Tengker, Rektor STIE Kampus Ungu yang mencalonkan diri di Partai Barnas untuk Dapil Jabar 6 (Kota Depok, Kota Bekasi).

Kehadiran para caleg perempuan berdarah Kawanua di pentas nasional, setidaknya memberi bukti sahih bahwa yang cantik-cantik tak hanya maju karena modal tampang. Mereka juga punya semangat dan kemampuan yang diwarisi dari figur Maria Walanda Maramis. (010)


Lagu Ciptaan SBY jadi Theme Song; Save Our Planet, Tandai Gelaran WOC

We have only one place, and make or home together, we must answer, don’t let it destroyed our live, we gather ini Manado.

SEKITAR delapan puluh penyanyi dari berbagai latar belakang sanggar paduan suara di Manado, Tondano dan Tomohon terdengar nyaring menyanyikan bait demi bait lagu tadi, dalam sesi latihan di Grand Kawanua, Jumat (1/5) kemarin. Penampilan mereka dibuka duet solois, Jackli Palit dan Roy Sangi.

Tembang ini ciptaan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono berjudul “Save Our Planet” yang nantinya menjadi lagu tema World Ocean Confrence (WOC). Para penyanyi yang akan memadukan suara sopran, alto, tenor presiden3Presiden SBY saat melakukan peninjawan soal kesiapa Sulut sebagai tuan rumah pelaksanaan WOC dan CTI Summit, 11 – 15 Mei 2009

dan bass menjadi serasi itu merupakan anggota sanggar Benedictio Chorale, PS Unima Tondano, Gema Sangkakala, JB Forte dan Tomohon Christian Choir, didirijeni Jaris Banua, figur yang juga mengaransemen lagu tersebut.

Save Our Planet memang lagu bertema lingkungan, sesuai dengan visi sentra WOC, yaitu pertemuan internasional yang akan membahas berbagai isu sentral terkait lingkungan, khususnya kelautan. Membicarakan isu global warming, panitia WOC mengundang perwakilan lebih dari seratus negara, terakumulasi kehadiran mereka di Manado 11 hingga 15 Mei ini dalam jumlah seribuan delegasi.

Saking istimewanya iven ini, tak heran persiapannya terus dipantau pusat. Rapat koordinasi pemantapan WOC antara daerah dengan pemerintah pusat kemarin langsung dihadiri Menteri Perikanan dan Kelautan Fredy Numberi serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie di Grand Kawanua, bangunan megah di Kayuwatu yang dirancang khusus untuk WOC. Sebagian besar pejabat eselon II Pemprop Sulut nampak hadir di situ.

Usai mematangkan persiapan kegiatan, panitia juga mencoba memeragakan di hadapan kedua menteri guliran acara untuk opening ceremony. Pembukaan WOC tersebut diwarnai pentas budaya daerah berupa tarian. Setidaknya ada 3 hingga 4 tari yang akan dibawakan oleh kontestan Nyong-Noni dari 9 kabupaten/kota di Sulut. Tari pembuka tentunya Maengket, yang terbukti manjur mengangkat nama Sulut di mata dunia, dimana pemimpin tari atau lazim disebut kapel dibawakan dengan dinamis oleh Noni Sulut 2008, Ursula Pomantung. (PK/010)


Penangkapan Eksekutor, Pendana dan Dalang Pembunuh Direktur PRB

Antasari Otak Pembunuhan Nasrudin

JAKARTA – Sebulan lebih pasca penembakan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB)INDONESIA-CORRUPTION/
Nasrudin Zulkarnaen, pembunuhnyabebas berkeliaran. Hingga pada Senin 27 April 2009, Polda Metro Jaya menangkap eksekutor Nasrudin di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Secara resmi, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri menyampaikan pernyataan mengenai penangkapan Nasrudin. “Ada sembilan orang ditangkap,” kata BHD, Rabu 29 April 2009 lalu di DPR.
Berikut adalah kronologi penangkapan eksekutor hingga pendana dari drama penembakan Nasrudin yang disampaikan sumber di kepolisian. Penangkapan diawali oleh tertangkapnya Dan, eksekutor Nasrudin di Tanjung Priok pada Senin. Dari pemeriksaan Dan, dia kemudian menyebut Her, Hen, Fran dan Am. Kelima orang itu kemudian ditangkap lalu menyebut nama Ed. “Dan, Her, Hen, Fran dan Am adalah orang yang bertugas di lapangan saat mengeksekusi Nasrudin. Kelima orang ini tidak mengenal orang-orang di atas Ed,” kata sumber kepada detikcom, Jum’at (1/5/2009).
Ed kemudian ditangkap dan dia menyebut nama Je. Je kemudian ditangkap di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang pada Rabu dini hari. Dari Je, penyidikan berkembang ke arah Sigid Haryo. Sigid kemudian ditangkap di Blok A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada hari yang sama. Pemeriksaan Sigid, kemudian Sigid menyebut nama Kombes W, mantan Kapolres di Jakarta. W lalu ditangkap pada Kamis malam di kawasan Tangerang saat sedang karaoke. Dari pemeriksaan W, kemudian dia menyebut Antasari Azhar sebagai otak dari pembunuhan Nasrudin ini. (dtc/002)

KPK Nonaktifkan Antasari Azhar

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya memutuskan menonaktifkan Antasari Azhar untuk sementara dari jabatan Ketua KPK. Penonaktifan ini tidak dibatasi waktu dan akan disesuaikan dengan perkembangan kasus yang menyeret Antasari. Pernyataan sikap resmi tersebut disampaikan di Gedung KPK, Jumat malam. Hadir empat pimpinan KPK masing-masing M. Jasin, Candra Hamzah, Bibit Riyanto, dan Haryono Umar.

CandrINDONESIA-CORRUPTION/ Hamzah mengatakan keputusan tersebut merupakan hasil pertemuan pimpinan KPK yang dilakukan di rumah Antasari Azhar untuk menyikapi kasus tersebut. Rapat tersebut juga diikuti Antasari. “Dalam rapat itu, kami memutuskan pelaksana harian KPK akan diemban empat pimpinan lain secara periodik agar Pak Antasari lebih fokus ke permasalahan beliau,” ucap Candra. Mengenai penonaktifan Antasari Azhar, Candra Hamzah mengatakan tidak akan mengganggu kinerja KPK.

Namun, Candra menolak berkomentar ketika ditanya mengenai keterlibatan Antasari dalam kasus pembunuhan PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Menurutnya KPK tidak memiliki kapasitas untuk membrikan komentar terhadap kasus tersebut. “Yang bisa memberikan keterangan adalah Mabes Polri,” ujarnya.

Lebih lanjut Candra mengatakan KPK tidak akan mengintervensi kepolisian terkait kasus yang menyeret Antasari. “Kami serahkan sepenuhnya kepada kepolisian,” katanya. Usai memberikan keterangan, keempat pimpinan KPK tidak mau melayani pertanyaan yang diajukan wartawan dan langsung berlalu meninggalkan Gedung KPK.

Sebelumnya, diduga Terkait kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, pihak Kejaksaan Agung telah melakukan pencekalan terhadap Antasari Azhar. Direktur Penindakan dan Penyidikan Ditjen Keimigrasian Muchdor membenarkan pencekalan terhadap Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar sejak Kamis (29/04) atas perintah Jaksa Agung Muda Intelejen (Jamintel) Wisnu Subroto. “Ya, kemarin sore (Kamis, 29/04) pukul 17.30, saya ditelepon Jamintel untuk mencegah dia ke luar negeri,” ujar Muchdor kepada wartawan di Jakarta, Jumat (1/5). (kpc/dtc/AN/002)

Dibalik Penembakan Direktur PRB
ICW: “DPR Harus Lebih Dengarkan Warga”

JAKARTA – Ketua Komisi Pemberantasan Kosupsi (KPK) nonaktif Antasari Azhar disebut Kejaksaan Agung (Kejagung) menjadi tersangka pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen. Terpilihnya Antasari menjadi Ketua KPK tak lepas dari proses seleksi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Ini tidak bisa dilepaskan dari proses seleksi di DPR yang juga punya kontribusi memilih Antasari. Padahal ICW (Indonesia Corruption Watch) sudah pernah menolak dan meminta DPR untuk tidak memilih Antasari sebagai pimpinan KPK, tapi tetap saja dipilih,” ujar anggota badan pekerja ICW Emerson Yuntho.
Ke depan jika benar Antasari dinonaktifkan dan harus dicari penggantinya, maka fit and proper test yang dilakukan DPR dan Panitia Seleksi harus lebih memperhatikan masukan dari warga. “DPR dan Pansel yang memilih harus lebih memperhatikan (masukan warga),” tegas Emerson. (dtc/002)

Pembunuhan Nasrudin Bermotif Asmara

SOLO – Pembunuhan Nasrudin, Direktur PT Rajawali Putra Banjaran, diduga berlatar belakang asmara. Keluarga menyimpan bukti berupa pesan pendek yang diterima Nasrudin dua pekan sebelum ia tertembak, 14 Maret. Ini diungkapkan Boyamin Saiman dari Tim Advokasi Keluarga Nasrudin di Kota Solo, Jumat (1/5) siang.

Menurut Boyamin, pesan pendek yang diterima Nasrudin itu tertulis dikirimkan oleh AA. Isinya kurang lebih, “Permasalahan di antara kita mari kita selesaikan baik-baik. Kalau perlu saya minta maaf. Jangan di blow-up, kalau di blow-up, tahu sendiri risikonya.”

Sumber dari keluarga bercerita, sejak menerima pesan pendek itu Nasrudin yang semula jarang shalat, jadi kerap shalat dan khusyuk sekali. Lebih dari itu, ia pun terlihat gelisah. Saat ditanya, Nasrudin mengatakan, pasangannya diganggu orang. “Orang itu disebut Nasrudin berinisial AA,” tutur Boyamin.

Dua hari sebelum ditembak, Nasrudin membentuk tim penasihat hukum yang akan digunakannya untuk mendukung rencananya mengungkap kasus skandal yang melibatkan AA yang juga pejabat negara itu. “Dia sempat menunjuk pengacara terkenal di Jakarta,” kata Boyamin.

Bukti berupa pesan pendek dan beberapa foto telah diserahkan keluarga kepada polisi. Menurut Boyamin, keluarga berharap bukti-bukti itu dapat dimanfaatkan untuk menemukan missing link yang disebutkan polisi.

Boyamin menambahkan, Nasrudin dan AA sebenarnya telah berteman lama sejak Nasrudin aktif memberikan informasi tentang kasus korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia. Belakangan, Nasrudin merasa kecewa karena kasus ini hanya menyeret Direktur Keuangan PT Rajawali Nusantara Indonesia sebagai tersangka dan melewatkan beberapa orang lain yang juga terlibat kasus itu.

Itu kekecewaan kedua Nasrudin kepada AA sehingga berencana membeberkan skandal AA kepada publik. Dengan rencana Nasrudin, barang kali AA merasa khawatir. Lalu ia berkeluh kesah kepada orang-orang dekatnya yang lantas diterjemahkan terlalu jauh atau mungkin saja ia memang memerintahkan langsung. “Ini tugas polisi untuk mengungkapnya,” kata Boyamin.

Dari hasil penelusuran keluarga, salah satu tersangka yang ditetapkan polisi, SH, diketahui sebagai tim sukses AA saat mengikuti seleksi masuk lembaga negara yang sekarang dipimpinnya. SH melobi beberapa partai di DPR sehingga AA bahkan bisa menjadi ketua di lembaga itu. “AA khawatir reputasinya jatuh jika skandalnya dibuka dan SH khawatir bisnisnya terganggu jika AA dipaksa turun dari jabatannya jika skandalnya terungkap,” kata Boyamin. (kpc/002)

Prabowo Cawapres Koalisi Besar, Dua Jendral Kepung SBY

prabowo-subianto31JAKARTA – Hanya dalam jangka waktu sehari, Jumat (1/5) kemarin, sebuah kesepakatan yang dibuat gabungan sejumlah partai dikoalisi besar semakin memanaskan konstelasi pra pemilihan Presiden. Semakin jelas terlihat di arena suksesi Juli nanti, gacoan Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), akan ‘dikepung’ kolega jendralnya dari lingkungan militer, Wiranto dan Prabowo Subianto.

Apalagi kemarin, Partai Golkar resmi meminang Wiranto sebagai calon wakil presiden (Cawapres) mendampingi ketua umumnya Jusuf Kalla. Duet JK Win langsung diklaim sebagai pasangan solid nan dinamis yang bisa menandingi SBY. Terkait koalisi besar, diprediksi sebentar lagi Prabowo, andalan Partai Gerindra, akan ikut jejak Wiranto. Pria berdarah Langowan, Minahasa, ini disebut akan berpasangan dengan Megawati. Bila wacana jadi kenyataan, maka Pilpres bisa berubah jadi ‘perang’ sengit antara para jenderal, SBY, Wiranto dan Prabowo.

Namun Wiranto selaku Ketum Partai Hanura menegaskan koalisi yang dibentuk ini bukan untuk mengeroyok Partai Demokrat (PD). “Jangan diindikasikan untuk mengeroyok Partai Demokrat atau pemerintah. Hal ini disebabkan pemerintah juga punya koalisi. Kita syukuri ada seperti ini di peta politik nasional,” kata Wiranto di DPP Partai Hanura, Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat kemarin.

Pedeklarasian pasangan JK-Wiranto dan koalisi Partai Golkar-Hanura merupakan hasil kerja sama banyak pihak. Tanpa dukungan dan kekuatan dari pihak-pihak terkait, tidak mungkin kesepakatan kebersamaan tersebut bisa terwujud. Demikian kata bakal capres dan Ketum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) usai acara deklarasi JK-Wiranto.

Para petinggi Partai Golkar yang dikenal sebagai pendukung pencapresan JK hadir dalam acara deklarasi. Nampak beberapa di antaranya Surya Paloh, Burhanudin Napitupulu, Sumarsono, Iskandar Mandji, Fahmi Idris, Prio Budi Santoso, Andi Matallata, Rully Chaerul Aswar dan Syamsul Muarif. Sementara elit Partai Golkar yang mendukung agar JK tetap berpasangan dengan SBY, tidak hadir. Seperti Aburizal Bakrie, Muladi, Sultan Hamengku Buwono X dan Fadel Muhammad.

JK mengingatkan, deklarasi justru merupakan awal dari perjuangan panjang. Tim sukses dariINDONESIA-ELECTION/COALITIONPartai Golkar dan Hanura serta dari masing-masing capres dan cawapes selanjutnya harus bergerak cepat dengan kekuatan penuh menyusun segala persiapan bertempur dalam Pilpres 2009. “Malam ini hanya awalan. Mudah-mudahan Jumat malam ini membawa berkah,” imbuh JK.

Walau koalisi besar terbentuk, namun keunggulan Partai demokrat masih nampak, setidaknya dari jumlah perolehan kursi di DPR RI. Berdasarkan rekapitulasi manual sementara, perolehan suara PDIP memang unggul dibanding Partai Demokrat. Namun jumlah kursi banteng moncong putih itu lebih sedikit dari Demokrat.

Dari perkiraan perolehan suara yang dibuat Center for Electoral Reform (Cetro), PDIP meraih 45 kursi, sedangkan Demokrat 46 kursi. Hal ini disebabkan perolehan suara Demokrat lebih merata dibanding PDIP. “Suara Demokrat lebih merata sehingga perolehan kursinya bisa lebih banyak,” ujar peneliti dari Cetro kemarin.

Penghitungan kursi itu dibuat berdasarkan data dari 14 provinsi yang telah dibawa KPU provinsi ke KPU pusat untuk direkap. Meski telah disahkan di pleno provinsi, namun belum semua data provinsi telah disahkan oleh KPU karena datanya bermasalah dan belum ditemukan kesepakatan antara KPU dengan para saksi parpol dan caleg DPD.

INDONESIA-POLITICS-VOTE14 Provinsi yang dihitung Cetro adalah Sumatera Barat, Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Tengah, DIY, Bali, Kalimantan Barat, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan, dan Banten. Jumlah total suara yang dihitung Cetro dari 14 provinsi itu adalah 39.647.750. Dari jumlah itu, suara parpol yang lolos Parliamentary Threshold (PT) mencapai 32.795.350.

Perolehan kursi PDIP unggul signifikan dari Demokrat di Jateng (20:14) dan Bali (4:2). Sedangkan kemenangan Demokrat dari PDIP tampak signifikan di Sumbar (5:0) dan Banten (6:3). Di provinsi lain, selisih perolehan kursi kedua partai ini hanya 1 atau bahkan sama.

Nasib PKB dan Gerindra mirip PDIP dan Demokrat. Suara PKB lebih tinggi dari Gerindra, tetapi jumlah kursinya lebih sedikit, yakni 9 untuk PKB dan 10 untuk Gerindra. (dtc/010)

KPU CEDERUNG BEKERJA FORMALISTIK DAN CARI GAMPANG

JAKARTA – Koordinator Komite Pemilih Indonesia, Jeirry Sumampouw, di Jakarta, Jumat, menilai, Komisi Pemilihan Umum cenderung bekerja hanya secara formalistik malah terkesan suka cari gampang atau gemar menyederhanakan masalah. “Misalnya terkait soal rekapitulasi suara pemilih yang kini disorot publik setelah mengalami banyak kendala bahkan kegagalan. Secara umum saya menilai KPU sesungguhnya belum siap untuk melaksanakan rekap,” katanya kepada ANTARA.
Akibatnya, menurutnya, KPU bekerja (merekap) cenderung seperti dipaksakan dan sekadar formalistik belaka, atau seperti kata beberapa pengamat, lembaga ini dikuasai orang-orang yang terkesan bersikap profesional hanya sebagai orang-orang bayaran semata, mengabaikan hati nurani. “KPU pun bertindak sangat arogan ketika tidak mampu menjelaskan banyak persoalan yang muncul dalam rekapitupulasi itu. Lalu, akhirnya alasan pamungkas yang selalu diberikan, adalah, silahkan gugat ke Mahkamah Konstitusi (MK),” ujarnya.
Alasan ini, demikian mantan Koordinator Nasional (Kornas) Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), benar-benar sangat arogan dan cermin dari ketidakmampuan KPU untuk mempertanggungjawabkan keanehan-keanehan yang terjadi dalam rekap. “Keanehan-keanehan itu seperti selisih suara, penggelembungan suara, data yang tidak sinkron, dan lain-lain yang semuanya tak bisa dipertanggungjawabkan secara logis dan rasional,” tandasnya.

Tidak Paham
Selain itu, lanjut Jeirry Sumampouw, para anggota KPU kelihatannya tidak begitu paham persoalan-persoalan di lapangan. “Sebab dalam banyak hal, saya melihat KPU tak mampu berargumentasi rasional terkait persoalan-persoalan yang muncul,” ujarnya.
Akibatnya, menurutnya, MK menjadi pelariannya. “Padahal, jika banyak kasus dibawa ke MK, berpotensi MK tidak dapat menyelesaikan semua sengketa Pemilu sesuai waktu yang tersedia, dan ini juga berpotensi mempengaruhi tahapan Pemilu Presiden (Pilpres),” katanya.
Jeirry Sumampouw kemudian menyorot kritis tentang proses rekapitulasi suara secara manual yang kini dilakukan KPU, setelah rekap menggunakan teknologi informasi (TI) sebelumnya banyak masalah. “Dalam hal ini, dalam rekapitulasi manual itu terlihat ketidakpastian saksi Partai Politik (Parpol) dan calon anggota legislatif (Caleg) Dewan Perwakilan Daerah (DPD), khususnya dalam hal data,” ungkapnya.
Karenanya, demikian Jeirry Sumampouw, argumen-argumen mereka seringkali sangat lemah bahkan mudah sekali dipatahkan oleh KPU. “Apalagi, sudah diatur bahwa saksi hanya bisa mempersoalkan sesuatu yang terkait langsung dengan suara Parpol atau Caleg-nya sendiri, tidak bisa mempersoalkan suara pihak yang lain,” katanya.
Cara seperti itu sesungguhnya bisa menjadi sebuah problem baru yang berpotensi diperkarakan. “Saya kira, kalau begini terus hasil rekap ini, akan banyak dipersoalkan di kemudian hari,” ujar Jeirry Sumampouw lagi. (*jr/002)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s