TERKAIT PEMBUNUHAN PASUTRI PELAYAN DI MALALAYANG

Polisi Tidak Sewa Dukun

Wajah Pembunuh Pendeta Diketahui

pendeta-malalayang
Kedua korban pembunuhan sadis saat disemayamkan di rumah duka sebelum dimakamkan…..

MANADO – Aparat kepolisian siap mengungkap pelaku pembunuhan sadis Pdt Frans Koagow (64) dan istrinya Femmy Kumendong (72). Sebentar lagi hal tersebut akan diketahui lewat sketsa wajah sang pelaku yang bakal disebarkan ke publik.

Untuk mengungkap kasus pembunuhan ini, Polisi menggali fakta lewat penuturan sejumlah saksi yang telah diperiksa. Dari situ, kemudian polisi berhasil menggambar sketsa wajah pelaku. “Sketsa ini dibuat berdasarkan keterangan saksi-saksi yang memaparkan saat korban terakhir bertemu dengan siapa, kemudian digambarkan,” kata Kapolda Sulut, Brigjen Pol Drs Bekto Suprapto pada wartawan Senin (4/5) kemarin. […]

Bekto berjanji, sketsa tersebut tak akan disimpan apalagi dirahasiakan. “Akan kami sebarkan lewat media gambarnya, biar masyarakat bisa tahu,” tandas mantan Kepala Densus 88 ini.

Bersamaan, Kapolda juga membantah aparatnya menggunakan jasa ‘orang pintar’ untuk mengungkap kasus pembunuhan ini. Hal tersebut sekaligus menangkis isu bahwa Polda minim dana untuk melakukan penyelidikan. ”Anggarannya cukup, kalau kurang minta sama Kapolda, saya kasih dan itu masih ada. Sekali lagi mengenai anggaran penyelidikan dikatakan tidak cukup, tidak benar itu. Yang jelas masih cukup, bulan apa ini, kan anggran penyidikannya sampai Desember,” tegas Bekto.

Seperti diketahui pembunuhan yang terjadi di GPDI Petra Malalayang, menewaskan Pdt Frans Koagouw, dikenal sebagai Gembala Sidang GPDI Petra Malalayang II dan istrinya Femmy Kumendong (72). Sepasang suami-istri yang dihabisi secara sadis oleh pembunuh misterius.

Jenazah kedua korban tergeletak bersimbah darah dalam rumah mereka, Kelurahan Malalayang II, Lingkungan III, Kecamatan Malalayang, Manado, Sabtu (25/4) pagi. Pembunuh keji ini diperkirakan terjadi sekitar pukul 07.00 Wita.

Jenazah Frans tergeletak di dalam kamar, posisinya tertelungkup ke arah pintu. Luka bekas sabetan parang menganga di bagian tengkuk, Kepala korban nyaris terpisah dari tubuhnya.  Femmy tergeletak di tempat tidur dalam keadaan tidak sadarkan diri.  Tiga luka sabetan menganga di wajahnya. Satu tebasan pada dahi kanan melewati pelipis dan mata kanan hingga tulang pipi kanan. Luka tebasan kedua menganga di dahi kanan melewati pelipis mata kanan terus ke bawah mengenai bibir hingga dada. Satu tebasan lagi mengenai pipi kiri. Dan Femmy menghembuskan nafasnya terakhir di Rumah Sakit Prof Kandou Malalayang.  (009/010)

Sketsa Bisa Mengungkap Misteri Malalayang

PERISTIWA pembunuhan brutal terhadap  Pendeta GPdI Petra Malalayang Frans Koagow serta istrinya Femmy Kumendong pada 26 April lalu, sampai hari ini belum terungkap. Hasil pengusutan intensif yang terus dilakukan Poltabes Manado yang di-back up Polda Sulawesi Utara (Sulut), sangat dinanti warga Sulut.

Kapolda Sulut Bekto Suprapto optimis kasus pembunuhan akan terungkap. Sebab itu aparat kepolisian telah membentuk tim khusus untuk mengungkap kasus tersebut. Kasus pembunuhan yang sempat menggegerkan warga Kota Manado itu dinilai sangat sadis dan brutal. Korban Frans dibantai dengan leher hampir putus, sedangkan kepala istrinya nyaris terbelah.

Peristiwa tersebut menjadi prioritas pihak kepolisian, apalagi dengan terjadinya kejadian tersebut ada oknum-oknum tertentu yang ingin memprovokasi, yaitu mencoba mengadu-domba sesama warga didaerah ini lewat isu sara yang disebarkan lewat SMS.

Untung, warga didaerah ini tidak mudah terpancing dengan isu-isu seperti itu. Persatuan dan kesatuan yang telah tercipta selama ini dan tingkat kerukunan antar umat beragama sudah sangat tinggi. Isu sara yang disebarkan oleh oknum tertentu sempat diketahui oleh pihak kepolisian. Sehingga dengan waktu relatif singkat aparat kepolisian dapat mengungkap dan menangkap pelaku pengedar SMS tersebut.

Dalam rentang waktu 31 tahun, berdasarkan catatan Cahya Siang, setidaknya terdapat tiga peristiwa pembunuhan mencolok  di Sulut yang  tidak atau belum terungkap hingga kini. Pertama, penembakan yang menewaskan Kapolres Minahasa (dulu, baca: Komandan Resort/Danres) HWE Sorongan pada 1978.

Padahal saat itu korban akan dipromosikan sebagai Kapolres Manado. Promosi itu akan diperoleh korban setelah berhasil membongkar aksi penyelundupan besar di perairan antara Indonesia dan Filipina.

Dan tepatnya 29 tahun kemudian, atau pada 23 Desember 2007 di perkebunan Desa Rurukan, Kota Tomohon, seorang pejabat di Sulut ditemukan tewas. Korban, yakni Wakil Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulut Oddy Manus ditemukan tewas. Jenasahnya yang sudah membusuk, terbungkus plastik dan kain terpal.

Kasus-kasus ini, dalam skala nasional, terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Sebutlah kematian pengusaha Jakarta Nurdin Koto pada 1978, yang tewas terpotong-potong. Jenazahnya dibuang ke Kali Kresek, Jakarta Utara. Pada 1980-an, ditemukan pula jenasah mayat terpotong 13 yang tidak teridentifikasi sampai sekarang.

Kasus yang juga sadis karena diwarnai perkosaan terjadi pada 1995 terhadap anak-anak Acan. Setidaknya, kasus tersebut mirip dengan dugaan sementara di balik kematian Frans dan istrinya di Malalayang, yakni masalah tanah.  Selain sedang terlibat sengketa tanah warisan di Kecamatan Remboken, Kabupaten Minahasa,  Frans juga diduga bersengketa tanah dengan pihak lain di Malalayang.

Cahya Siang yang ikut melacak kasus Acan di Bekasi pada 1995, juga menemukan motif yang serupa. Acan dikenal sebagai satu di antara segelintir warga yang menolak lahannya untuk dibeli pihak developer untuk menjadi lokasi perumahan. Pada dekade 1990-an, Bekasi yang merupakan kota satelit terbesar Jakarta, dikepung banyak perumahan.

Sayangnya, hingga kasus tersebut dimejahijaukan,  banyak warga tidak puas. Sebab, para ‘pelaku’ tersebut hanyalah  anak-anak muda dari pemukiman di dekat rumah Acan. Dugaan banyak kalangan, ada pihak tertentu yang mengarahkan aksi tersebut supaya Acan menjual tanahnya.

Masih kaitannya dengan misteri Malalayang, aparat kepolisian sudah menyebarkan sketsa wajah pelaku pembunuhan tersebut kepada masyarakat. Lantas, mungkinkah masyarakat bisa langsung mengenal wajah pembunuh sebagaimana hasil rekaaan lewat sketsa wajah tersebut?

Yang pasti,  kriminolog Cesare Lombroso[1835-1909], pencetus awal pemikiran ilmiah kriminologi menggolongkan bentuk fisik seseorang yang diklaimnya sebagai kriminal. Di antaranya, memiliki bentuk wajah persegi dan penyayang anjing, memiliki bibir atas yang menonjol keluar ke atas bibir bawah,  terutama jika bibir atasnya tipis.

Orang berciri fisik seperti ini, menurut Lombrosso, mempunyai sifat sebagai pemangsa. Waspadai juga orang yang memiliki wajah berhidung sangat lancip dan menurun, bibir hampir tidak terlihat, mata kecil dan tulang pipi tinggi dengan sedikit daging. Sebab, orang yang memiliki bentuk wajah ini memiliki sifat kejam. Mudah-mudahan dengan disebarluaskan sketsa pelaku pembunuhan sadis atas Frans Koagouw dan Femmy Kumendong, serta kerja keras aparat kepolisian, kasus tersebut segera terungkap. (CS/PS/002)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s