SEMUANYA HANYA SOAL WAKTU DAN KESEMPATAN

BANGSA INDONESIA HARUS MERDEKA SEUTUHNYA

By: *B. Wilson Lumi

HIRUK-pikuk soal siapa yang terbaik untuk memimpin Bangsa ini lima tahun kedepan, ternyata hanya gencar dalam opini yang dikembangkan tim sukses masing-masing. Siapa yang terbaik –jika dinilai– hanyalah soal waktu dan kesempatan. Lihat mereka;para Capres sekarang. Capres A, misalnya mengembangkan issue yang (pasti) diharapkan dapat mengakat performance ia sebagai calon yang paling unggul di antara yang lainnya. Setelah itu (juga) pasti mengangkat issue yang diperkirakan bisa memojokkan lawan politik; Capres-Cawapres yang diusung parpol lainnya. Dan, begitu sebaliknya, Capres B dan C, pasti juga akan mengangkat issue yang sama; kasarnya  “muji” diri sendiri sambil memojokkan lawan “tanding”. […]

Ketika saya berangkat dari Manado, kebetulan bersama teman tapi kami berlainan pesawat. Saya dengan Lion Air sementara teman satunya lagi dengan Garuda Indonesia. Kita start dari Kantor Gubernur Sulut dengan kendaraan yang sama. Tiba di Bandara Samratulangi, kami pun turun bersama. Masuk di pintu kedatangan, kami masih bersama. Tapi, setelah mau ticketing untuk kepastian keberangkatan, kami harus berpisah. Aku check in di Lion Air, sementara teman yang satunya ke Garuda Indonesia.

Dalam tempo sekitar 45 menit, setelah selesai ticketing, kami ketemu untuk sama-sama mengeluarkan Rp 30 ribu di loket pengambilan boarding past. Setelah itu, kami pun bersama ke lantai dua, ke ruang tungu pemberangkatan. Sampai di ruang tunggu keberangkatan, kami pun dipisahkan lagi oleh waktu. Kebetulan, Garuda Indonesia yang akan berangkat lebih dulu. Jadinya, temanku ini pun berpisah denganku karena harus berangkat lebih dulu. Saya, yang harus menumpang Lion Air, terpasksa masih harus menunggu sekitar dua jam karena selain pesawatnya belum tiba di Bandara Samratulangi Manado dari Makassar, memang sesuai waktu yang tertera di tiket, aku dan penumpang lainnya yang sama-sama sepesawat, dijadwalkan nanti akan berangkat pukul 14.25 Wita.

Lagi-lagi kami pun dipisahkan oleh waktu. Setelah Garuda Indonesia berangkat, aku dan beberapa penumpang Lion Air pun mencari peraduan masing-masing. Sofa yang tersedia di ruang tunggu pelan nan pasti akhirnya penuh juga oleh calon penumpang.

“Perhatian-perhatian, para penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan bla…bla…bla.. 777 tujuan Manado-Makasar-Jakarta agar segera memasuki ruang tunggu keberangkatan…”  Tiba saatnya, kami pun berangkat. Yang ada di pikiran kita, duh… pesawatnya udah terlambat, jam berapa nanti baru bisa tiba di Bandara Sukarno Hatta. Tapi sudahlah…… toch kini sudah harus berangkat.

Tepat pukul 15.00 Wita, akhirnya Lion Air tujuan Makasar-Jakarta pun bergerak dan kami pun meningalkan Manado, kota yang baru mendunia saat seluruh perhatian internasional tertuju pada iven konferensi kelautan dunia (World Ocean Conference-WOC).

Hanya dalam tempo 1,30 menit, pesawat yang kami tumpangi ini pun mendarat dengan mulus di Bandara Hasanudin, Makassar. Saat mendarat, kita pun tak melihat pesawat Garuda Indonesia di sana. Mungkin (pikirku) sudah berangkat lagi atau memang terbang langsung dari Manado kemudian Jakarta.

Sekitar 20-30 menit semua penumpang yang masih akan melanjutkan ke Jakarta harus beristirahat sejenak. “Sial benar ini Lion, harusnya kita “ngopi” dulu di kedai coffie yang di dalam sana,” guman beberapa penumpang yang duduk disampingku.

Memang, seluruh penumpang yang akan melanjutkan ke Jakarta, hanya bisa beristirahat dalam pesawat. Karena sesuai “perintah” kru, kami tidak diperkenankan masuk ruang transit. Jadi, istirahanya di dalam pesawat.

Tiba saatnya kami pun akan berangkat. Tepat pukul 17.00 wita, kami pun meninggalkan Bandara Hassanudin Makassar. Perjalanan menuju Bandara Sukarno Hatta akan ditempuh dalam waktu 2 jam, itu kata kru sebelum pesawat lepas landas dari Makassar.

Dalam perjalanan menuju Jakarta dari Makasar, tidak banyak pemandangan yang dilihat karena cakrawala pun sudah mulai gelap. Akhirnya, jam 19 kurang 10 menit, pesawat inipun mendarat dengan sempurna di Bandara Sukarno Hatta. Akupun bergegas mengambil barang bawaan dan langsung menuju ke gerbang keluar, untuk mencari tumpangan yang bisa mengantarku ke tempat tujuan di Ibu Kota Jakarta.

Sebelum, sampai ke pintu keluar, aku merasa ada yang memanggil. Ehh, ternyata, kawan yang menumpangi pesawat Garuda Indonesia belum juga keluar dari Bandara. Penyebabnya, barang bawaan yang dimasukkan dalam bagasi, tidak diketahui apa penyebabnya, baru bisa diterimanya setelah jam 19.00 Wib. Ternyata, semua ini hanya soal waktu dan kesempatan. Aku yang pesawat ekonomi dan temanku yang executive class, tibahnya sami-mawon. Untuk bisa tiba pada cita-cita, kita memang hanya memiliki kesempatan dan waktu.

Kembali ke masalah Pilpres. Tak perduli parpol apa yang ditumpangi. Apakah Parpol yang sudah menguasai republik ini selama puluhan tahun seperti pesawat Garuda Indonesia yang sudah mendunia atau Parpol yang masih mau unjuk gigi dengan berbagai kekurangan seperti Lion Air yang masih suka molor waktu dengan pelayanan yang pas-pasan, kalau toch punya waktu dan kesempatan pasti akan sampai pada cita-cita mulia, menyejahterakan rakyat yang kini pada kondisi seperti belum terlepas dari penjajahan, meskipun kita sudah 63 tahun merdeka.

Jadi, segala bentuk bujuk rayu, visi-misi, “menjual” kesengsaraan rakyat, untuk mendapatkan suara, semuanya juga hanya soal waktu dan kesempatan. Waktu akan menjawab semuanya ketika kita diberi kesempatan. Kita memang tertingal jauh dari negara lainnya di dunia soal pemahaman memilih calon pemimpin. Kebanyakan kita hanya menganggap visi-misi itu tidak lebih dari propaganda. Pasalnya, rakyat sudah seringkali “ditipu” dengan janji-janji yang selalu tidak ditepati tatkala seseorang sudah mencapai tujuannya.

Tapi sekarang, mari, saatnya  kita bersama memahami siapa sebenarnya yang bisa meminimalisasi persoalan pelik bangsa ini. Negara kita kaya, namun masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Itu kenyataan. Sekarang, “sajian” sudah berada di depan mata kita. Mari pilih “sajian” yang bisa membawa Bangsa ini sejajar dengan bangsa lainnya di dunia ini. Masa depan bangsa ini terletak pada tangan kita. Jangan hanya karena kebahagiaan sesaat; duit plus sembako, lantas kita harus menelantarkan anak-cucu kita. *Penulis Pemimpin Redaksi Harian Sore CAHYA SIANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s