UNTUK DIRENUNGKAN: TETAP TEGUH DAN JANGAN GOYAH IMANMU

ARTIKEL TAMU:


KRITIK FUNDAMENTAL ATAS TEORI KONSPIRASI

PEMALSUAN SEJARAH DAN AJARAN YESUS KRISTUS

[Makalah ini dipresentasikan pada sejumlah seminar dan bedah buku pada tahun 2006 sampai dengan 2008].

Oleh: Benni E. Matindas

WACANA tentang “pemalsuan sejarah dan ajaran Kristen” — melalui buku, media pers, film, bahkan pelbagai ajaran theologi yang diajarkan sejumlah pendeta dan theolog — sedang digemari tak hanya di kalangan non-Kristen namun pula di banyak warga jemaat gereja sendiri. […..]

Sungguhkah sejarah serta ajaran Kristen sebagaimana yang umum dikenal sekarang ini palsu belaka? Sudah sangat banyak kritik yang diajukan untuk menelanjangi segala spekulasi dan kebohongan dari buku-buku seperti Da Vinci Code, Injil Yudas, dan pelbagai teori Yesus-Sejarah (Historical Jesus) itu, tetapi tanpa mengemukakan kritik mendasar, sehingga semuanya hanya terjerumus ke dalam pusaran debat kusir (dan karena ini mengenai data sejarah maka beberapa point perdebatan seolah buntu lantaran harus menunggu pembuktian, sementara penghujatan atas kekristenan dan penggoncangan iman warga jemaat harus terus berlangsung). Beberapa kritik yang diajukan, baik melalui ungkapan lisan di mimbar khotbah para pemimpin jemaat maupun pelbagai tulisan di media pers dan sejumlah buku rohani Kristen, bahkan terlalu naif. Semisal yang cuma sibuk mengatakan bahwa buku-buku tersebut adalah “sesat” dan “menyesatkan”; padahal umumnya buku yang menghujat kekristenan tersebut justru berpretensi sedang mengungkap penyesatan yang terjadi dalam ajaran Kristen.

Untuk menjawab semua tantangan dan tentangan terhadap Kristenitas itu, perlu lebih dulu kita rumuskan secara jernih pokok-pokok permasalahan yang dimunculkan oleh pelbagai publikasi hujat tersebut:

  1. Tudingan tentang adanya pemalsuan dalam sejarah pribadi Yesus yang tercantum dalam Alkitab sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.
  2. Tudingan tentang adanya pemalsuan ajaran Yesus dalam Alkitab yang kita pahami selama ini.
  3. Masalah butir B tsb harus mengarah pada persoalan manakah ajaran yang benar. Dan ini bukan persoalan sejarah (bukan soal naskah mana yang lebih dulu dan mana yang tiruan atau hanya hasil pemalsuan); juga bukan persoalan politik (bukan soal naskah mana yang lebih sah karena di-kanonisasi oleh pihak yang lebih otoritatif). Ini adalah persoalan filosofis. Selama tidak dilakukan pemberesan filosofis secara tuntas, Gnostisisme akan selalu muncul sebagai upaya “menegakkan kebenaran”.

A. Tentang Tuduhan “Pemalsuan Sejarah Yesus”

Isi Alkitab mengenai kehidupan Yesus, sebagaimana yang dipegang umat Kristen selama ini, dituduh sebagai hasil pemalsuan. Sangat banyak orang yang akan dengan mudah terpengaruh dan percaya bahwa tudingan tersebut benar adanya. Terlebih kalangan non-Kristen; atau kalangan Kristen yang oleh bermacam sebab sedang ingin ‘memukul’ Kristenitas (misalnya yang dialami oleh Dan Brown, Michael Baigent dsb) atau yang sedang hanyut dalam arus counter culture yang merasa gagah bila mampu memberontak terhadap apa yang mereka sebut “dominasi Barat/Kristen”.

1. Mengapa orang mudah terpengaruh untuk percaya dan asyik meneliti lebih jauh bahwa Alkitab yang ada sekarang ini adalah hasil pemalsuan? Karena mereka yang ingin menilai Kristen secara kritis itu memposisikan diri pada sudut pandang (perspektif) zaman sekarang ini, khususnya semangat zaman kini yang diwarnai semangat counter culture.

Orang yang ingin menilai Kristen secara kritis pada zaman sekarang ini memandang Kristenitas sebagai “sebuah lembaga gerejani sangat besar dan didukung sejumlah negara di dunia yang memiliki kekuasaan besar; maka kalau ada kekeliruan ataupun kebobrokan pada inti kekristenan (dalam hal ini isi Alkitab mengenai pribadi Yesus) haruslah dirahasiakan secara ketat dengan segala upaya politik/kekuasaan agar kewibawaan gereja tetap bisa dijaga”.

Perspektif yang ada di zaman sekarang itulah yang dipakai untuk melihat sejarah Kristen di zaman dulu (masa awal penulisan dan penyusunan Alkitab). Mereka langsung mudah untuk percaya kalau dibilang bahwa kisah Yesus yang sebetulnya bukan seperti yang ada dalam Alkitab sekarang; bahwa Yesus menikmati asmara dan perkawinan dengan Maria Magdalena tetapi kisah asmara ini ditutup-tutupi oleh kekuasaan Rasul Petrus dan kemudian para pemimpin gereja yang bersidang di Nicea pada abad ke-4 yang didukung oleh kekuasaan Kaisar Konstantin.

Kekeliruan fundamental dari buku-buku itu adalah justru menjadi faktor penyebab buku-buku itu sangat mudah dipercaya atau sangat mudah memperoleh pembenaran dan dukungan.

Padahal, yang benar, bicara tentang sejarah penulisan kisah Yesus serta pencantumannya dalam Alkitab (—memasukkan naskah Perjanjian Baru ke dalam Alkitab yang sudah dipegang, diagungkan dan dijaga umat Yahudi—) itu harus diletakkan pada skala waktu yang merupakan era awal kekristenan itu sendiri. Yaitu 2 abad pertama tawarikh Masehi. Nah, pada masa itu tiada seorang jua pun yang punya kepentingan untuk memalsukan kisah Yesus. Tiada seorang pun yang merasa perlu menjaga citra kesucian dan keagungan Yesus. Malah sebaliknya. Sepanjang berabad-abad awal kekristenan, baik di tengah masyarakat Yahudi maupun Romawi, menjadi Kristen itu berarti hidup terancam maut dan dihina di mana-mana, maka tak ada yang harus dijaga mengenai Kristus. Membuang Kristus sama dengan melepas beban berat, dan peluang meraih status sosial tinggi. Jika seorang memperoleh secuilpun kabar yang tak beres mengenai diri Yesus maka itu sudah amat cukup buat jadi alasan melepas kekristenannya. Bukannya mempertahankan Kristen dengan berupaya memalsukan isi “kabar baik” itu.

Para penulis buku seperti Da Vinci Code dan Holy Blood Holy Grail,  dan semua pembacanya yang terpengaruh itu, sesungguhnya sudah terjebak pada pola pikir yang keliru dan terjungkir balik sejak pada dasarnya. Mereka berpikir dengan asumsi dasar bahwa pada saat Alkitab disusun, Kristen sudah seperti sekarang ini, bahwa Kristen adalah agama dengan jumlah penganut terbesar, kehormatannya dijaga oleh sejumlah lembaga gerejani besar dan bahkan oleh sejumlah negara besar, sehingga harus dijaga dan dibersihkan dari segala aib yang bisa menodai citra kekudusan Yesus. Padahal sebaliknya, pada saat naskah-naskah tentang Yesus itu mulai ditulis (oleh Lewi ben Alfeus atau Matius, Yokhanan Markus, Dokter Loukas atau Lukas, dan Yahya ben Zabdi atau Yohanes), dipelihara, disalin-salin (diperbanyak secara manual), dan kemudian disusun menjadi bagian kitab suci, Kristen justru adalah kelompok kecil yang dihina di mana-mana, dibantai habis-habisan, diburu-buru untuk dijadikan makanan singa. Tak ada kehormatan yang harus dijaga secara politis. Kalau ternyata ada cerita berbau tak sedap sekitar pribadi Yesus, bukan seperti yang dipersaksikan para rasul, maka siapapun pasti langsung dengan senang hati meninggalkan imannya yang memang sudah bikin mereka tersiksa itu.

Setiap orang ingin hidup terhormat dan nyaman, bukan dihina terus dan selamanya terancam maut di tengah kekuasaan negara Romawi yang sangat bengis. Maka tentu tak ada yang sudi mempertahankan kehormatan Kristen kalau itu memang bohong dan konyol. Apalagi orang-orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi, untuk menuhankan Yesus mereka harus “mengkhianati imannya sendiri”, melawan ketakutan terhadap “kutukan Yahwe”, mereka harus menanggung pengucilan, diburu-buru, kehilangan hak-hak sebagai bangsa Yahudi, selain diburu-buru pula oleh orang Romawi. Siapapun akan dengan senang hati meninggalkan Kristen, tak ada yang harus dijaga, kalau ada sedikit saja kebimbangan ataupun perdebatan mengenai isi kesaksian yang disebarkan para rasul.

Isi kitab Perjanjian Baru, terlebih kisah tentang pribadi Yesus — yang tak berbeda dengan isi kasaksian para rasul yang dipelihara dan diwariskan melalui tuturan lisan — tidak pernah mengalami perubahan secara asasi semenjak pertama kali ditulis sampai saat memasuki proses kanonisasi awal. Proses kanonisasi ini berlangsung cukup lama, sekitar setengah abad, sehingga lebih bisa dijamin kecermatannya. Proses kanonisasi selanjutnya, termasuk yang melalui institusi resmi berupa sidang para pemimpin gereja pada abad-abad kemudian, sudah tak pernah memasalahkan hal-hal asasi dari isi 4 kitab Injil yang menjadi bagian awal Perjanjian Baru itu.

Satu lagi bantahan mendasar yang bisa kita ajukan, juga berkenaan dengan soal keliru menggunakan perspektif: Jika kesaksian yang sebenarnya tentang Yesus mengisahkan tentang pribadi manusia biasa (yang menikmati seks dsb), baru kemudian diputarbalikkan pada abad IV, maka tentu orang Kristen tidak akan diburu-buru untuk dijadikan santapan singa dan dibantai di mana-mana. Kenyataan bahwa Romawi sangat menista Kristen itu tak lain karena dunia Romawi yang sangat merayakan hedonisme itu menilai Kristen sebagai penyebar nilai-nilai budaya subversif yang diteladani dari kehidupan pribadi Yesus.

2. Soal ‘bukti fisik’ yang disebut “penemuan makam keluarga Yesus” yang disiarkan Discovery Channel 2007 lalu? Tafsir dan kemungkinannya masih bisa amat beragam. Juga soal DNA, tak akan bisa selesai perdebatan tentang validitas obyek maupun hasil penelitiannya. Menjadi sekadar pengikutNya saja sudah dibantai di mana-mana (Yakobus dibunuh di Yeruzalem tanpa jadi perkara, tak diusut, tak bisa dituntut), bagaimana mungkin Yesus sendiri bisa hidup nyaman berkeluarga sampai wafat dan dikubur baik-baik?! Temuan itu, kalau benar, bukan saja membantah kisah kebangkitan tapi harus juga dengan kisah penyaliban. Dan itu lebih sulit lagi, sebab peristiwa Golgotha tersebut tercatat rapi dalam banyak dokumen sejarah sampai di luar tradisi Kristen.

John Dominic Crossan — eksponen teori Yesus-Sejarah yang bukunya menjadi referensi utama dari karya Iones Rakhmat “A Trial of Jesus” — mengatakan bahwa kepercayaan pada kisah Yesus itu cuma berdasar keinginan, bukan pada kenyataan. Tapi saya harus bilang, siapapun kita, termasuk Crossan, mesti ingat pada satu ketegasan: bahwa jauh lebih besar keinginan untuk tidak percaya di kalangan orang zaman sekarang, dibanding keinginan untuk percaya di kalangan orang Yahudi dan apalagi Romawi di zaman dulu itu. Waktu itu tak seorang pun yang perlu menjaga kisah keagungan dan keilahian Yesus, jika itu tidak faktual. Malah sebaliknya, sepanjang berabad-abad awal kekristenan, menjadi Kristen itu berarti hidup terancam maut, dihina di mana-mana, dan bagi orang Yahudi itu berarti “menanggung kutukan Yahwe”.

B. Tentang Tuduhan “Pemalsuan Ajaran Yesus oleh Para Penyusun Alkitab”

Ajaran Kristen sebagaimana dipaparkan dalam Alkitab Perjanjian Baru dituduh sebagai hasil pemalsuan. Dalam hal ini terutama: 1. Bahwa Yesus sesungguhnya bukan Tuhan ataupun Anak Allah; 2. Bahwa ajaran Yesus yang sebenarnya mendukung Gnostisisme.

1.Penolakan pada ketuhanan Yesus, kentara sudah didasari pada semacam metatheologi — yang tumbuh oleh niat mulia memuliakan Allah serta menjaga kemurnian paham monotheisme — berupa penolakan terhadap penuhanan atas apapun dan siapapun tak kecuali Anak Manusia yang bernama Yesus. Sikap ini kian diperkukuh oleh wacana “Yesus-sejarah” yang mengatakan bahwa sejarah Yesus telah dipalsukan, bahwa Yesus tidak sesempurna yang dicatat dalam Alkitab (walaupun umumnya apa yang ditampilkan sebagai wacana “sejarah” tersebut justru cuma rekayasa yang justru lahir dari sikap metatheologi yang memang sudah berpurbasangka negatif terhadap Yesus).

Penuhanan (deifikasi) atas siapapun memang harus terkesan pemberhalaan, menduakan Allah, menghadirkan illah lain di hadapan hadiratNya. Tetapi, mengenai Yesus, yang terjadi memang bukan penuhanan manusia, melain proses pemanusiaan Tuhan oleh Tuhan sendiri berdasar kemahakuasaan dan kemahakasihanNya. Tuhan memanusiakan DiriNya.

Tak boleh ada dalam bentuk apapun segala metatheologi yang membatasi Allah, membatasi kemahakuasaan dan kemahakreatifan dan kemahacintaan Allah. Semua theologi hanya boleh didasarkan pada penyataan dan pernyataan Allah sendiri, tidak pada segala metatheologi.

Stephen Patterson — seorang tokoh penganjur Teori Yesus-Sejarah — dalam bukunya The God of Jesus menampilkan data sejarah tentang kaisar-kaisar Romawi yang disebut “Anak Tuhan”, itu diharap membuat kita tiba pada simpulan bahwa pengikut Yesus hanya terbawa oleh tradisi zaman itu untuk memberi predikat yang sama pada calon Raja Israel yang akan mengusir penjajah Romawi (— bagian inilah dari buku Patterson yang sangat dipuji Crossan). Tapi mengapa tidak kita lihat fakta itu sebagai tradisi yang disiapkan Tuhan bagi masyarakat agar bisa mengapresiasi kehadiran “Raja dari segala raja” sebagai Anak Allah?! Mengapa kita tak bisa mengerti bahwa kebiasaan di zaman dulu itu sengaja diizinkan Tuhan agar masyarakat dunia sudah lebih siap atau memiliki persepsi bagi kehadiran Sang Raja Utama Panganjur Supermasi Rohani Atas Seluruh Aspek Kehidupan (Politik dan Ekonomi) sebagai Anak Allah yang lahir dari Roh Tuhan.

2. Sejumlah buku, seperti The Lost Gospel, cenderung menggiring pembaca untuk tiba pada kesimpulan bahwa isi Alkitab (sumber ajaran Kristen) yang dipegang selama ini “salah”, karena tidak memasukkan naskah-naskah “Injil” tertentu yang isi idenya berbeda dan bahkan menyalahkan ide dalam Alkitab.

Kesimpulan seperti itu gampang tumbuh, karena memandang dari perspektif keliru. Masyarakat yang hidup di zaman sekarang akan mudah dipengaruhi untuk percaya bahwa Alkitab yang ada memang salah. Mereka mengira: Alkitab dulu disusun berdasar naskah-naskah yang tersedia pada saat itu, dan setelah tersusun seperti yang ada sampai sekarang harus dikeramatkan tak boleh diutak-atik ataupun ditambah-tambah lagi walaupun ternyata kemudian ditemukan naskah “Injil” yang ditulis sejak zaman dulu.

Yang sebenarnya: Alkitab Perjanjian Baru disusun dengan cara memilih sejumlah naskah dari ribuan naskah yang tersedia pada waktu itu. Sangat banyak naskah yang ditolak masuk karena tak sesuai azas-azas ajaran Yesus; termasuk naskah-naskah yang isinya seperti yang sekarang disebut “Injil Yudas” karena mengandung ajaran Gnostisisme yang tak sesuai ajaran Yesus yang dipegang oleh para rasul serta para muridnya.

Naskah-naskah berbau Gnostisisme itu bukan sedang tersembunyi atau disembunyikan pada waktu itu dan nanti jauh di kemudian ditemukan setelah Alkitab selesai disusun. Justru sebaliknya, naskah-naskah Gnostik itulah yang lebih banyak tersedia dan beredar luas, karena tidak dilarang oleh penguasa dan masyarakat Romawi. Naskah-naskah tersebut, pada waktu proses kanonisasi, tersedia sangat banyak tetapi memang ditolak oleh para rasul dan bapak-bapak gereja.

C. Apakah Gnostisisme adalah kebenaran?

Pada akhirnya orang Kristen harus menyimak soal salah-benarnya Gnostisisme. Jika orang Kristen menganggap Tuhan sebagai sumber konsepsi yang tak bisa salah, maka masalah otentitas historis maupun otoritas sumber dan legitimasi proses kanon bukanlah merupakan penentu ditolak atau diterimanya suatu naskah ke dalam Kitab Suci, melainkan persoalan kebenaran yang ditentukan melalui kajian filosofis.

Persoalan kebenaran bukanlah seperti soal produk industri yang memasalahkan siapa yang asli atau lebih dahulu dan siapa yang baru datang kemudian sebagai peniru atau pemalsu. Kebenaran bisa baru muncul kemudian, dengan kadar kebenaran yang melebih apa yang sudah ada lebih dulu.

Gnostisisme selalu muncul di zaman kapanpun, sampai di zaman modern ini (Gerakan Rosicrucianisme di abad XVII, Freemasonry di abad XIX, dan Gerakan Zaman Baru pada abad XX), karena tak pernah dikritik secara memadai. Ia selalu diyakini sebagai kebenaran oleh kelompok-kelompok tertentu di setiap zaman.

Awalnya, Gnostisisme adalah “sekte” dalam Kristen yang berkembang pada abad II. Tetapi akarnya sendiri sudah hidup di masyarakat wilayah Romawi sejak sekitar 200 SM, yang merupakan paduan dari: ajaran agama dari Timur yang masuk melalui orang Iran (bahwa kehidupan di alam fana ini hanyalah dislokasi sehingga penuh penderitaan; jiwa manusia harus dibebaskan dari tubuh beserta segala keinginan dan nafsunya, dan untuk mencapai pembebasan tersebut harus diutamakan pencapaian pencerahan atau perolehan pengetahuan mengenai rahasia kehidupan ini), ditambah falsafah Plato (bahwa segala yang hidup di alam ini hanyalah bayangan dari sosok sejatinya yang ada di Alam Ide :: Alam Roh; kematian adalah pembebasan roh dari belenggu tubuh), dan pelbagai ajaran lain.

Gnostisisme mengajarkan bahwa jiwa manusia harus dibebaskan dari tubuh yang menjadi penjaranya, dan dikembalikan untuk menyatu dalam kesucian serta keabadian Allah.

Kedengarannya benar, dan indah. Tapi kekeliruannya menjadi jelas pada paparan berikut yang merupakan kritik atas implikasi dan konsekuensi logis Gnostisisme dalam beberapa aspeknya:

  1. Gnostisisme harus mengatakan bahwa jiwa manusia adalah percikan dari jiwa Allah, karena jika tidak, jika berasal dari dunia, maka mereka tak akan mampu menjelaskan jika dipertanyakan bagaimana bisa jiwa manusia berorientasi pada Allah dan kesucian padahal jiwa itu lahir dan tumbuh dari zat yang jahat serta melawan Allah (— mungkin ada yang masih berdalih bahwa jiwa kita masih mewarisi sifat dari jiwa orang tua serta leluhur kita yang baik, tapi itu semakin tak mungkin karena ketika diri kita dibuahkan tentu saja orang tua kita masih hidup dan jiwa mereka pasti masih dalam kondisi jahat karena belum terbebaskan dari dunia dan kedagingan, karena mereka belum meninggal dunia). Tetapi jika jiwa kita adalah percikan dari jiwa Allah maka haruslah dikatakan bahwa Allah tak memiliki kehendak dan kuasa sama sekali, karena Ia tak pernah mampu mencegah jiwaNya dipecah dan dilemparkan ke dalam wadah yang tak dikehendakiNya dan yang bahkan selalu melawanNya. Sehingga, setiap jiwa yang hari ini terbebas dari tubuh (seiring kematian jasmani seseorang) dan menyatu dengan Allah, pastilah tak bisa dijamin bahwa ia besok copot lagi dari kohesinya dengan Allah dan jatuh lagi ke dalam penjaranya yang lain dan begitu terus selamanya, sehingga Gnostisisme harus segera dinyatakan tak layak menjadi ajaran menuju keselamatan ataupun sekadar mencapai kebahagiaan.
  2. Lepasnya jiwa dari tubuh adalah penyucian, sehingga membunuh adalah kebajikan. Karena menolong sesama dari penderitaannya dan membawanya pada keselamatan abadi (Yudas disanjung, Kain dimuliakan oleh Sekte Kainis – salahsatu kelompok dalam Gnostisisme). Padahal membunuh pasti merusak jiwa sendiri, karena mengasihi merupakan fitrah eksistensial manusia (sebagaimana diungkap filsuf-filsuf seperti Karl Jaspers, Gabriel Marcel dan Martin Buber). [Nama sekte “Kainis” diambil dari nama Kain, tokoh Alkitab yang membunuh adiknya sendiri, Habel. Karena mereka menganggap Kain sama dengan Yudas, telah mempercepat penyatuan orang baik (Habel dan Yesus) dengan Roh Allah.]
  3. Ajaran dualisme Gnostik harus menuju pada 2 konsekuensi etika yang saling menihilkan, sehingga sudah bisa kita simpulkan sebagai kekeliruan atau infeasible alias tak layak diwujudkan. Yaitu: atau asketisme, atau imoralisme. Berusaha mati-matian membunuh nafsu kedagingan, bahkan membunuhi kemanusiaan, atau sebaliknya hidup tanpa moral (praktik free sex menjadi ibadat). Dan kedua-duanya pun adalah jalan yang tak mungkin membawa pada terang. Karena terang adalah upaya positif berupa amal kasih, bukan pasif sambil berusaha melakukan negasi terhadap segala hal duniawi sebagaimana praktik asketisme. Demikianlah kekeliruan mendasar dari ajaran Gnostik.

Terimakasih. Tuhan memberkati.-

2 thoughts on “UNTUK DIRENUNGKAN: TETAP TEGUH DAN JANGAN GOYAH IMANMU

  1. WACANA tentang “pemalsuan sejarah dan ajaran Kristen” — melalui buku, media pers, film, bahkan pelbagai ajaran theologi yang diajarkan sejumlah pendeta dan theolog — sedang digemari tak hanya di kalangan non-Kristen namun pula di banyak warga jemaat gereja sendiri. […..]

    Sungguhkah sejarah serta ajaran Kristen sebagaimana yang umum dikenal sekarang ini palsu belaka? Sudah sangat banyak kritik yang diajukan untuk menelanjangi segala spekulasi dan kebohongan dari buku-buku seperti Da Vinci Code, Injil Yudas, dan pelbagai teori Yesus-Sejarah (Historical Jesus) itu, tetapi tanpa mengemukakan kritik mendasar, sehingga semuanya hanya terjerumus ke dalam pusaran debat kusir (dan karena ini mengenai data sejarah maka beberapa point perdebatan seolah buntu lantaran harus menunggu pembuktian, sementara penghujatan atas kekristenan dan penggoncangan iman warga jemaat harus terus berlangsung). Beberapa kritik yang diajukan, baik melalui ungkapan lisan di mimbar khotbah para pemimpin jemaat maupun pelbagai tulisan di media pers dan sejumlah buku rohani Kristen, bahkan terlalu naif. Semisal yang cuma sibuk mengatakan bahwa buku-buku tersebut adalah “sesat” dan “menyesatkan”; padahal umumnya buku yang menghujat kekristenan tersebut justru berpretensi sedang mengungkap penyesatan yang terjadi dalam ajaran Kristen.

    Untuk menjawab semua tantangan dan tentangan terhadap Kristenitas itu, perlu lebih dulu kita rumuskan secara jernih pokok-pokok permasalahan yang dimunculkan oleh pelbagai publikasi hujat tersebut:

    1. Tudingan tentang adanya pemalsuan dalam sejarah pribadi Yesus yang tercantum dalam Alkitab sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.
    2. Tudingan tentang adanya pemalsuan ajaran Yesus dalam Alkitab yang kita pahami selama ini.
    3. Masalah butir B tsb harus mengarah pada persoalan manakah ajaran yang benar. Dan ini bukan persoalan sejarah (bukan soal naskah mana yang lebih dulu dan mana yang tiruan atau hanya hasil pemalsuan); juga bukan persoalan politik (bukan soal naskah mana yang lebih sah karena di-kanonisasi oleh pihak yang lebih otoritatif). Ini adalah persoalan filosofis. Selama tidak dilakukan pemberesan filosofis secara tuntas, Gnostisisme akan selalu muncul sebagai upaya “menegakkan kebenaran”.

    A. Tentang Tuduhan “Pemalsuan Sejarah Yesus”

    Isi Alkitab mengenai kehidupan Yesus, sebagaimana yang dipegang umat Kristen selama ini, dituduh sebagai hasil pemalsuan. Sangat banyak orang yang akan dengan mudah terpengaruh dan percaya bahwa tudingan tersebut benar adanya. Terlebih kalangan non-Kristen; atau kalangan Kristen yang oleh bermacam sebab sedang ingin ‘memukul’ Kristenitas (misalnya yang dialami oleh Dan Brown, Michael Baigent dsb) atau yang sedang hanyut dalam arus counter culture yang merasa gagah bila mampu memberontak terhadap apa yang mereka sebut “dominasi Barat/Kristen”.

    1. Mengapa orang mudah terpengaruh untuk percaya dan asyik meneliti lebih jauh bahwa Alkitab yang ada sekarang ini adalah hasil pemalsuan? Karena mereka yang ingin menilai Kristen secara kritis itu memposisikan diri pada sudut pandang (perspektif) zaman sekarang ini, khususnya semangat zaman kini yang diwarnai semangat counter culture.

    Orang yang ingin menilai Kristen secara kritis pada zaman sekarang ini memandang Kristenitas sebagai “sebuah lembaga gerejani sangat besar dan didukung sejumlah negara di dunia yang memiliki kekuasaan besar; maka kalau ada kekeliruan ataupun kebobrokan pada inti kekristenan (dalam hal ini isi Alkitab mengenai pribadi Yesus) haruslah dirahasiakan secara ketat dengan segala upaya politik/kekuasaan agar kewibawaan gereja tetap bisa dijaga”.

    Perspektif yang ada di zaman sekarang itulah yang dipakai untuk melihat sejarah Kristen di zaman dulu (masa awal penulisan dan penyusunan Alkitab). Mereka langsung mudah untuk percaya kalau dibilang bahwa kisah Yesus yang sebetulnya bukan seperti yang ada dalam Alkitab sekarang; bahwa Yesus menikmati asmara dan perkawinan dengan Maria Magdalena tetapi kisah asmara ini ditutup-tutupi oleh kekuasaan Rasul Petrus dan kemudian para pemimpin gereja yang bersidang di Nicea pada abad ke-4 yang didukung oleh kekuasaan Kaisar Konstantin.

    Kekeliruan fundamental dari buku-buku itu adalah justru menjadi faktor penyebab buku-buku itu sangat mudah dipercaya atau sangat mudah memperoleh pembenaran dan dukungan.

    Padahal, yang benar, bicara tentang sejarah penulisan kisah Yesus serta pencantumannya dalam Alkitab (—memasukkan naskah Perjanjian Baru ke dalam Alkitab yang sudah dipegang, diagungkan dan dijaga umat Yahudi—) itu harus diletakkan pada skala waktu yang merupakan era awal kekristenan itu sendiri. Yaitu 2 abad pertama tawarikh Masehi. Nah, pada masa itu tiada seorang jua pun yang punya kepentingan untuk memalsukan kisah Yesus. Tiada seorang pun yang merasa perlu menjaga citra kesucian dan keagungan Yesus. Malah sebaliknya. Sepanjang berabad-abad awal kekristenan, baik di tengah masyarakat Yahudi maupun Romawi, menjadi Kristen itu berarti hidup terancam maut dan dihina di mana-mana, maka tak ada yang harus dijaga mengenai Kristus. Membuang Kristus sama dengan melepas beban berat, dan peluang meraih status sosial tinggi. Jika seorang memperoleh secuilpun kabar yang tak beres mengenai diri Yesus maka itu sudah amat cukup buat jadi alasan melepas kekristenannya. Bukannya mempertahankan Kristen dengan berupaya memalsukan isi “kabar baik” itu.

    Para penulis buku seperti Da Vinci Code dan Holy Blood Holy Grail, dan semua pembacanya yang terpengaruh itu, sesungguhnya sudah terjebak pada pola pikir yang keliru dan terjungkir balik sejak pada dasarnya. Mereka berpikir dengan asumsi dasar bahwa pada saat Alkitab disusun, Kristen sudah seperti sekarang ini, bahwa Kristen adalah agama dengan jumlah penganut terbesar, kehormatannya dijaga oleh sejumlah lembaga gerejani besar dan bahkan oleh sejumlah negara besar, sehingga harus dijaga dan dibersihkan dari segala aib yang bisa menodai citra kekudusan Yesus. Padahal sebaliknya, pada saat naskah-naskah tentang Yesus itu mulai ditulis (oleh Lewi ben Alfeus atau Matius, Yokhanan Markus, Dokter Loukas atau Lukas, dan Yahya ben Zabdi atau Yohanes), dipelihara, disalin-salin (diperbanyak secara manual), dan kemudian disusun menjadi bagian kitab suci, Kristen justru adalah kelompok kecil yang dihina di mana-mana, dibantai habis-habisan, diburu-buru untuk dijadikan makanan singa. Tak ada kehormatan yang harus dijaga secara politis. Kalau ternyata ada cerita berbau tak sedap sekitar pribadi Yesus, bukan seperti yang dipersaksikan para rasul, maka siapapun pasti langsung dengan senang hati meninggalkan imannya yang memang sudah bikin mereka tersiksa itu.

    Setiap orang ingin hidup terhormat dan nyaman, bukan dihina terus dan selamanya terancam maut di tengah kekuasaan negara Romawi yang sangat bengis. Maka tentu tak ada yang sudi mempertahankan kehormatan Kristen kalau itu memang bohong dan konyol. Apalagi orang-orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi, untuk menuhankan Yesus mereka harus “mengkhianati imannya sendiri”, melawan ketakutan terhadap “kutukan Yahwe”, mereka harus menanggung pengucilan, diburu-buru, kehilangan hak-hak sebagai bangsa Yahudi, selain diburu-buru pula oleh orang Romawi. Siapapun akan dengan senang hati meninggalkan Kristen, tak ada yang harus dijaga, kalau ada sedikit saja kebimbangan ataupun perdebatan mengenai isi kesaksian yang disebarkan para rasul.

    Isi kitab Perjanjian Baru, terlebih kisah tentang pribadi Yesus — yang tak berbeda dengan isi kasaksian para rasul yang dipelihara dan diwariskan melalui tuturan lisan — tidak pernah mengalami perubahan secara asasi semenjak pertama kali ditulis sampai saat memasuki proses kanonisasi awal. Proses kanonisasi ini berlangsung cukup lama, sekitar setengah abad, sehingga lebih bisa dijamin kecermatannya. Proses kanonisasi selanjutnya, termasuk yang melalui institusi resmi berupa sidang para pemimpin gereja pada abad-abad kemudian, sudah tak pernah memasalahkan hal-hal asasi dari isi 4 kitab Injil yang menjadi bagian awal Perjanjian Baru itu.

    Satu lagi bantahan mendasar yang bisa kita ajukan, juga berkenaan dengan soal keliru menggunakan perspektif: Jika kesaksian yang sebenarnya tentang Yesus mengisahkan tentang pribadi manusia biasa (yang menikmati seks dsb), baru kemudian diputarbalikkan pada abad IV, maka tentu orang Kristen tidak akan diburu-buru untuk dijadikan santapan singa dan dibantai di mana-mana. Kenyataan bahwa Romawi sangat menista Kristen itu tak lain karena dunia Romawi yang sangat merayakan hedonisme itu menilai Kristen sebagai penyebar nilai-nilai budaya subversif yang diteladani dari kehidupan pribadi Yesus.

    2. Soal ‘bukti fisik’ yang disebut “penemuan makam keluarga Yesus” yang disiarkan Discovery Channel 2007 lalu? Tafsir dan kemungkinannya masih bisa amat beragam. Juga soal DNA, tak akan bisa selesai perdebatan tentang validitas obyek maupun hasil penelitiannya. Menjadi sekadar pengikutNya saja sudah dibantai di mana-mana (Yakobus dibunuh di Yeruzalem tanpa jadi perkara, tak diusut, tak bisa dituntut), bagaimana mungkin Yesus sendiri bisa hidup nyaman berkeluarga sampai wafat dan dikubur baik-baik?! Temuan itu, kalau benar, bukan saja membantah kisah kebangkitan tapi harus juga dengan kisah penyaliban. Dan itu lebih sulit lagi, sebab peristiwa Golgotha tersebut tercatat rapi dalam banyak dokumen sejarah sampai di luar tradisi Kristen.

    John Dominic Crossan — eksponen teori Yesus-Sejarah yang bukunya menjadi referensi utama dari karya Iones Rakhmat “A Trial of Jesus” — mengatakan bahwa kepercayaan pada kisah Yesus itu cuma berdasar keinginan, bukan pada kenyataan. Tapi saya harus bilang, siapapun kita, termasuk Crossan, mesti ingat pada satu ketegasan: bahwa jauh lebih besar keinginan untuk tidak percaya di kalangan orang zaman sekarang, dibanding keinginan untuk percaya di kalangan orang Yahudi dan apalagi Romawi di zaman dulu itu. Waktu itu tak seorang pun yang perlu menjaga kisah keagungan dan keilahian Yesus, jika itu tidak faktual. Malah sebaliknya, sepanjang berabad-abad awal kekristenan, menjadi Kristen itu berarti hidup terancam maut, dihina di mana-mana, dan bagi orang Yahudi itu berarti “menanggung kutukan Yahwe”.

    B. Tentang Tuduhan “Pemalsuan Ajaran Yesus oleh Para Penyusun Alkitab”

    Ajaran Kristen sebagaimana dipaparkan dalam Alkitab Perjanjian Baru dituduh sebagai hasil pemalsuan. Dalam hal ini terutama: 1. Bahwa Yesus sesungguhnya bukan Tuhan ataupun Anak Allah; 2. Bahwa ajaran Yesus yang sebenarnya mendukung Gnostisisme.

    1.Penolakan pada ketuhanan Yesus, kentara sudah didasari pada semacam metatheologi — yang tumbuh oleh niat mulia memuliakan Allah serta menjaga kemurnian paham monotheisme — berupa penolakan terhadap penuhanan atas apapun dan siapapun tak kecuali Anak Manusia yang bernama Yesus. Sikap ini kian diperkukuh oleh wacana “Yesus-sejarah” yang mengatakan bahwa sejarah Yesus telah dipalsukan, bahwa Yesus tidak sesempurna yang dicatat dalam Alkitab (walaupun umumnya apa yang ditampilkan sebagai wacana “sejarah” tersebut justru cuma rekayasa yang justru lahir dari sikap metatheologi yang memang sudah berpurbasangka negatif terhadap Yesus).

    Penuhanan (deifikasi) atas siapapun memang harus terkesan pemberhalaan, menduakan Allah, menghadirkan illah lain di hadapan hadiratNya. Tetapi, mengenai Yesus, yang terjadi memang bukan penuhanan manusia, melain proses pemanusiaan Tuhan oleh Tuhan sendiri berdasar kemahakuasaan dan kemahakasihanNya. Tuhan memanusiakan DiriNya.

    Tak boleh ada dalam bentuk apapun segala metatheologi yang membatasi Allah, membatasi kemahakuasaan dan kemahakreatifan dan kemahacintaan Allah. Semua theologi hanya boleh didasarkan pada penyataan dan pernyataan Allah sendiri, tidak pada segala metatheologi.

    Stephen Patterson — seorang tokoh penganjur Teori Yesus-Sejarah — dalam bukunya The God of Jesus menampilkan data sejarah tentang kaisar-kaisar Romawi yang disebut “Anak Tuhan”, itu diharap membuat kita tiba pada simpulan bahwa pengikut Yesus hanya terbawa oleh tradisi zaman itu untuk memberi predikat yang sama pada calon Raja Israel yang akan mengusir penjajah Romawi (— bagian inilah dari buku Patterson yang sangat dipuji Crossan). Tapi mengapa tidak kita lihat fakta itu sebagai tradisi yang disiapkan Tuhan bagi masyarakat agar bisa mengapresiasi kehadiran “Raja dari segala raja” sebagai Anak Allah?! Mengapa kita tak bisa mengerti bahwa kebiasaan di zaman dulu itu sengaja diizinkan Tuhan agar masyarakat dunia sudah lebih siap atau memiliki persepsi bagi kehadiran Sang Raja Utama Panganjur Supermasi Rohani Atas Seluruh Aspek Kehidupan (Politik dan Ekonomi) sebagai Anak Allah yang lahir dari Roh Tuhan.

    2. Sejumlah buku, seperti The Lost Gospel, cenderung menggiring pembaca untuk tiba pada kesimpulan bahwa isi Alkitab (sumber ajaran Kristen) yang dipegang selama ini “salah”, karena tidak memasukkan naskah-naskah “Injil” tertentu yang isi idenya berbeda dan bahkan menyalahkan ide dalam Alkitab.

    Kesimpulan seperti itu gampang tumbuh, karena memandang dari perspektif keliru. Masyarakat yang hidup di zaman sekarang akan mudah dipengaruhi untuk percaya bahwa Alkitab yang ada memang salah. Mereka mengira: Alkitab dulu disusun berdasar naskah-naskah yang tersedia pada saat itu, dan setelah tersusun seperti yang ada sampai sekarang harus dikeramatkan tak boleh diutak-atik ataupun ditambah-tambah lagi walaupun ternyata kemudian ditemukan naskah “Injil” yang ditulis sejak zaman dulu.

    Yang sebenarnya: Alkitab Perjanjian Baru disusun dengan cara memilih sejumlah naskah dari ribuan naskah yang tersedia pada waktu itu. Sangat banyak naskah yang ditolak masuk karena tak sesuai azas-azas ajaran Yesus; termasuk naskah-naskah yang isinya seperti yang sekarang disebut “Injil Yudas” karena mengandung ajaran Gnostisisme yang tak sesuai ajaran Yesus yang dipegang oleh para rasul serta para muridnya.

    Naskah-naskah berbau Gnostisisme itu bukan sedang tersembunyi atau disembunyikan pada waktu itu dan nanti jauh di kemudian ditemukan setelah Alkitab selesai disusun. Justru sebaliknya, naskah-naskah Gnostik itulah yang lebih banyak tersedia dan beredar luas, karena tidak dilarang oleh penguasa dan masyarakat Romawi. Naskah-naskah tersebut, pada waktu proses kanonisasi, tersedia sangat banyak tetapi memang ditolak oleh para rasul dan bapak-bapak gereja.

    C. Apakah Gnostisisme adalah kebenaran?

    Pada akhirnya orang Kristen harus menyimak soal salah-benarnya Gnostisisme. Jika orang Kristen menganggap Tuhan sebagai sumber konsepsi yang tak bisa salah, maka masalah otentitas historis maupun otoritas sumber dan legitimasi proses kanon bukanlah merupakan penentu ditolak atau diterimanya suatu naskah ke dalam Kitab Suci, melainkan persoalan kebenaran yang ditentukan melalui kajian filosofis.

    Persoalan kebenaran bukanlah seperti soal produk industri yang memasalahkan siapa yang asli atau lebih dahulu dan siapa yang baru datang kemudian sebagai peniru atau pemalsu. Kebenaran bisa baru muncul kemudian, dengan kadar kebenaran yang melebih apa yang sudah ada lebih dulu.

    Gnostisisme selalu muncul di zaman kapanpun, sampai di zaman modern ini (Gerakan Rosicrucianisme di abad XVII, Freemasonry di abad XIX, dan Gerakan Zaman Baru pada abad XX), karena tak pernah dikritik secara memadai. Ia selalu diyakini sebagai kebenaran oleh kelompok-kelompok tertentu di setiap zaman.

    Awalnya, Gnostisisme adalah “sekte” dalam Kristen yang berkembang pada abad II. Tetapi akarnya sendiri sudah hidup di masyarakat wilayah Romawi sejak sekitar 200 SM, yang merupakan paduan dari: ajaran agama dari Timur yang masuk melalui orang Iran (bahwa kehidupan di alam fana ini hanyalah dislokasi sehingga penuh penderitaan; jiwa manusia harus dibebaskan dari tubuh beserta segala keinginan dan nafsunya, dan untuk mencapai pembebasan tersebut harus diutamakan pencapaian pencerahan atau perolehan pengetahuan mengenai rahasia kehidupan ini), ditambah falsafah Plato (bahwa segala yang hidup di alam ini hanyalah bayangan dari sosok sejatinya yang ada di Alam Ide :: Alam Roh; kematian adalah pembebasan roh dari belenggu tubuh), dan pelbagai ajaran lain.

    Gnostisisme mengajarkan bahwa jiwa manusia harus dibebaskan dari tubuh yang menjadi penjaranya, dan dikembalikan untuk menyatu dalam kesucian serta keabadian Allah.

    Kedengarannya benar, dan indah. Tapi kekeliruannya menjadi jelas pada paparan berikut yang merupakan kritik atas implikasi dan konsekuensi logis Gnostisisme dalam beberapa aspeknya:

    1. Gnostisisme harus mengatakan bahwa jiwa manusia adalah percikan dari jiwa Allah, karena jika tidak, jika berasal dari dunia, maka mereka tak akan mampu menjelaskan jika dipertanyakan bagaimana bisa jiwa manusia berorientasi pada Allah dan kesucian padahal jiwa itu lahir dan tumbuh dari zat yang jahat serta melawan Allah (— mungkin ada yang masih berdalih bahwa jiwa kita masih mewarisi sifat dari jiwa orang tua serta leluhur kita yang baik, tapi itu semakin tak mungkin karena ketika diri kita dibuahkan tentu saja orang tua kita masih hidup dan jiwa mereka pasti masih dalam kondisi jahat karena belum terbebaskan dari dunia dan kedagingan, karena mereka belum meninggal dunia). Tetapi jika jiwa kita adalah percikan dari jiwa Allah maka haruslah dikatakan bahwa Allah tak memiliki kehendak dan kuasa sama sekali, karena Ia tak pernah mampu mencegah jiwaNya dipecah dan dilemparkan ke dalam wadah yang tak dikehendakiNya dan yang bahkan selalu melawanNya. Sehingga, setiap jiwa yang hari ini terbebas dari tubuh (seiring kematian jasmani seseorang) dan menyatu dengan Allah, pastilah tak bisa dijamin bahwa ia besok copot lagi dari kohesinya dengan Allah dan jatuh lagi ke dalam penjaranya yang lain dan begitu terus selamanya, sehingga Gnostisisme harus segera dinyatakan tak layak menjadi ajaran menuju keselamatan ataupun sekadar mencapai kebahagiaan.
    2. Lepasnya jiwa dari tubuh adalah penyucian, sehingga membunuh adalah kebajikan. Karena menolong sesama dari penderitaannya dan membawanya pada keselamatan abadi (Yudas disanjung, Kain dimuliakan oleh Sekte Kainis – salahsatu kelompok dalam Gnostisisme). Padahal membunuh pasti merusak jiwa sendiri, karena mengasihi merupakan fitrah eksistensial manusia (sebagaimana diungkap filsuf-filsuf seperti Karl Jaspers, Gabriel Marcel dan Martin Buber). [Nama sekte “Kainis” diambil dari nama Kain, tokoh Alkitab yang membunuh adiknya sendiri, Habel. Karena mereka menganggap Kain sama dengan Yudas, telah mempercepat penyatuan orang baik (Habel dan Yesus) dengan Roh Allah.]
    3. Ajaran dualisme Gnostik harus menuju pada 2 konsekuensi etika yang saling menihilkan, sehingga sudah bisa kita simpulkan sebagai kekeliruan atau infeasible alias tak layak diwujudkan. Yaitu: atau asketisme, atau imoralisme. Berusaha mati-matian membunuh nafsu kedagingan, bahkan membunuhi kemanusiaan, atau sebaliknya hidup tanpa moral (praktik free sex menjadi ibadat). Dan kedua-duanya pun adalah jalan yang tak mungkin membawa pada terang. Karena terang adalah upaya positif berupa amal kasih, bukan pasif sambil berusaha melakukan negasi terhadap segala hal duniawi sebagaimana praktik asketisme. Demikianlah kekeliruan mendasar dari ajaran Gnostik.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s