Tjahaja Sijang, Cahaya Siang, Cahya Siang, cahayasiang.net, [kini kembali] CAHAYA SIANG

SEKAPUR SIRIH TENTANG LAHIRNYA KEMBALI CAHAYA SIANG

Tidak Ada Manusia yang Ditakdirkan untuk Gagal dalam Hidup, Kecuali Dia Merencang untuk Gagal. Sementara Keberhasil hanya dapat Diraih oleh Mereka yang tidak Takut Gagal….. (* B. Wilson Lumi)

Awalnya, TJAHAJA SIJANG. Koran ini terbit pertama di Minahasa pada tahun 1869. Penerbitannya diprakarsai oleh Graafland, seorang misionaris di NZG, yang pada tingkat teknis banyak dibantu oleh Bettink, juga misionaris di lembaga yang sama.[…..]

Tjahaja Sijang termasuk di antara koran-koran pertama di Nusantara yang diterbitkan dalam bahasa Melayu, setelah Soerat Chabar Betawie (1858, Batavia), Soerat Kabar Melaijoe (1859, Surabaya), dan Bintang Timoer (1865, Padang).

Dari kiri ke kanan: Jeffry Wuisan (Redpel), John Mokalu (Red. Nasional), Ferdinan Abram (Red. Opini), Willem Turambi (Red. Olah Raga), Renata Ticonuwu (Red. Kota), Lanny Politon (PU/Pemred), S. Engelber Panggey (WaPemred), B. Wilson Lumi (Sekred/SDM/Opini), Ferry B Rende (Manj. Pemasaran); (Jongkok) Juffry Suak (Red Politik), Jongky Palandeng (Red. Daerah), Semuel Muhaling (Red. Religi/Internasional) dan Royke Buyung (Red. Pendidikan).

Tjahaja Sijang yang terbit dua kali sebulan ini mungkin tak selalu dianggap sebagai bagian penting dari sejarah pers Indonesia, mengingat penerbitnya yang bukan ‘pribumi’. Namun sulit untuk menyangkal peran sejarah yang dimainkan koran ini dalam pembentukan etnik Minahasa modern.

Koran ini telah menghadirkan bahasa Melayu dalam media cetak dan karenanya mendorong penguatan daya unifikasi bahasa ini dalam masyarakat Minahasa.

Tjahaja Sijang di Minahasa, sebelum diawaki “pribumi,” memang milik Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), sebuah lembaga zending Belanda. Namun NZG adalah lembaga yang melahirkan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).

Pengaruh GMIM di Minahasa setara dengan Nahdlatul Ulama di Pulau Jawa. Tjahaja Sijang, terbit jauh lebih awal dari Medan Prijaji (1907). Buktinya bisa baca dalam penelitian David Henley Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indie tentang besarnya pengaruh Tjahaja Sijang.

Wilson L (Cahaya Siang)

Setelah sekian lama ia tak mengunjungi pembaca, di pertengahan tahun 1987, kembali lagi Koran ini muncul menjadi Koran Harian pertama yang terbit terjadwal di Sulawesi Utara, dengan nama Surat Kabar Harian CAHAYA SIANG. Koran ini menjadi satu-satunya Koran yang sangat berpengaruh di Sulawesi Utara. Dengan tiras yang mencapai puncak pada 25 ribu eksemplar perharinya ini menjadi semacam bacaan wajib para stakeholder di kota Kawanua ini.

Wilson L (Cahaya Siang Online Blog)

SKH Cahaya Siang awalnya merupakan koran pertama dari jaringan Jawa Pos Newsnetwork (JPNN). Pada 1990, Cahaya Siang lepas dari JPNN dan diambil alih grup Media Indonesia. Cahaya Siang merupakan ‘kawah candradimuka’ lahirnya para wartawan yang kelak menjadi ‘pejabat’ penentu di harian-harian pagi ternama Sulut, antara lain Komentar Grup, Manado Post Grup, Harian SINDO Manado, ataupun Media Sulut Grup.

Penerbitan ini bertahan hingga 7 (tujuh) tahun. Setelah masa panceklik media yang terus dihantui dengan pembredelan ketika itu, ditahun 1994 akhirnya Surat Izin Penerbitan Pers (SIPP) Koran ini pun “dicabut”.

Masa reformasi, kembali “memaksa” pemerintah membuka pintu lebar-lebar bagi penerbitan untuk bisa menerbitan satu media cetak tanpa harus melengkapinya dengan SIUP. Cukup dengan satu payung hukum, seperti Perseroan Terbatas (PT), Yayasan atau Koperasi, pembaca sudah bisa menikmati satu penerbitan pers, surat kabar.

Dengan kondisi ini, kembali lagi, di Sulawesi Utara hadir satu penerbitan pertama yang berani mucul di sore hari. Lagi-lagi Tjahaja Sijang, Cahaya Siang ataupun Cahya Siang menjadi pembuka jalannya. Cahya Siang kembali lagi menjadi barometer Koran pertama di Manado, Sulawesi Utara yang terbit pada sore hari.

Harian Sore Cahya Siang, terbit sejak 3 Maret 2009 lalu di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Koran sore pertama di Sulut ini memiliki kekuatan basic, yakni dipelopori oleh hampir semua wartawan Surat Kabar Harian Cahaya Siang.

Wilson, Cahya Siang

Koran ini, diakui tak lepas dari nama besar Cahaya Siang pun Tjahaja Sijang, Koran pertama legendaris Sulut yang terbit sejak abad ke-18 itu. Kehadiran Cahya Siang kini, mulai meramaikan pangsa pasar surat kabar harian di Kota Manado menyusul Harian Tribun Manado (Kompas Gramedia Group) yang terbit sejak dua bulan silam. Bedanya, Cahya Siang dikelola oleh sebuah manajemen koperasi, bukan bagian dari konglomerasi surat kabar seperti Kompas Gramedia Group atau Jawa Pos.

Cahya Siang selama penerbitannya ini, sudah cukup meramaikan bursa para calon legislatif (Caleg) menjelang Pemilu Legislatif 2009. Terbukti, halaman khusus yang dibuka Cahya Siang bertajuk “Caleg Jadi” yang dikhususkan bagi para Caleg, menjadi barometer atau ukuruan bagi rakyat pemilih menentukan pilihannya. Cahya Siang, kini pembacanya sudah mencapai 15 ribu pembaca setiap harinya.

Kompetisi antarmedia harian di Kota Manado sangat tinggi. Namun, Cahya Siang walaupun modalnya kecil, tapi cukup diperhitungkan dalam menguasai/memiliki pasar tersendiri. Satu tujuan manajemen, Cahya Siang ingin menjawab kerinduan orang Sulawesi Utara terhadap hadirnya satu Koran berpengaruh bak reinkarnasi dari Cahaya Siang dan Tjahaja Sijang.

Diera Informasi Teknologi yang terus bergerak cepat perkembangannya, Cahaya Siang kembali menunjukan kemampuannya dengan mengikuti trend yang ada. Terhitung sejak 30 Maret 2010 (setahun kemudian sejak terbitnya Harian Sore Cahya Siang), melahirkan media online dengan nama: CAHAYASIANG.NET (http://www.cahayasiang.net). Kehadiran website khusus ini, diharapkan bisa menyambung mata rantai penerbitan dengan nama Tjahaja Sijang, Cahaya Siang, Cahya Siang di Bumi Nyiur Melambai ini.

Kini, di tengah persaingan media cetak yang begitu ketat, kembali SKH Cahaya Siang menunjukkan kelasnya. Seolah tak kenal menyerah, 02 Desember 2015, Cahaya Siang kembali eksis dengan nama Cahaya Siang News (CSN) dan kemudian persis di Hari Pendidikan Nasional, 02 Mei 2016 dengan berbagai pertimbangan, CSN berganti nama Cahaya Siang di bawah managemen PT Cahaya Utara Indopersada. Dengan  semangat tak kenal menyerah, para awak media yang masih tetap mengandalkan tenaga SDM “lama” tapi dengan semangat “baru”, kehadiran SKH Cahaya SIang diharapkan dapat diterima khalayak pembaca di Sulawesi Utara khususnya. Semoga bermanfaat. Tuhan Jesus memberkati. (*Pemimpin Redaksi Harian Sore Cahya Siang/Penanggungjawab cahayasiang.net/Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab SKH Cahaya Siang)

One thought on “Tjahaja Sijang, Cahaya Siang, Cahya Siang, cahayasiang.net, [kini kembali] CAHAYA SIANG

  1. Mantap….. emang paling enak bernostalgia…..

    Rekan-rekan CS, bagi dong ceritanya yang lain.

    kalu ada info tambahan, kirimkan ke Wilson, biar catatan ini dilengkapinya…. Io-ndak Wilson….. bagitu toch ????

    Salam,
    Jimmy Korompis (USA)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s