YA BAPA, YA ABA, “AMPUNILAH MEREKA KARENA MEREKA TIDAK TAHU APA YANG MEREKA PERBUAT”

PALING INDAH MAU MEMAAFKAN DAN MENGAMPUNI (Kiriman * Pastor Fred Tawaluyan, Pr)

Pastor Fred Tawaluyan, Pr

SALAH satu puncak dari bukit iman kristiani ialah peringatan Hari Kematian Tuhan Yesus, yang biasanya dirayakan setiap hari Jumat sebelum Hari Raya Paskah. Hari Jumat Agung dan hari Raya Paskah merupakan 2 peringatan yang menjadi 1 paket tak terpisahkan. Umat Katolik merayakannya dengan syukuran tata liturgis yang sangat-sangat meriah. Sungguh menjadi suatu puncak iman kristiani. Peristiwa kematian Tuhan Yesus secara khusus mempunyai arti dan makna yang sangat mendasar dan mendalam, disamping hari Raya Paskah. Yaitu bahwa melalui kematian manusiawi, kita memperoleh hidup baru dalam kebangkitan iman. […..]
Jadi, dapat dikatakan bahwa iman kristiani tak mempunyai arti apa-apa tanpa hari raya Paskah. Dan Hari raya Paskah tak akan pernah terjadi tanpa “Peristiwa Kematian Tuhan Yesus” karenanya, sungguh suatu ikatan yang tak terpisahkan.

Dari sekian banyak pesan biblis dan teologis yang dapat ditarik, beberapa diantaranya dapat diangkat, antara lain :
1.    Wafat Tuhan Yesus berarti suatu sikap pasrah dan penyerahan diri secara total, utuh dan penuh dari Tuhan Yesus “ demi , bagi” keselamatan umat Nya (orang lain)
2.    Wafat Tuhan Yesus dilaksanakan “karena” ketaatan pada kehendak Bapa Nya.
3.    Dan dalam diri pribadi Yesus sendiri yang adalah manusia lemah bahwa ia “komit”, setia pada janji diriNya sendiri.
Semua itu dikerjakanNya lewat pengurbanan, sengsara, derita dan bahkan wafat dalam suasana dan kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan. Dan bagi umat kristiani sekarang, apakah kiranya “makna dan pesan” kematian imani ini?

Apakah arti pengurbanan dan pelayanan kristiani? Semua orang bisa berbuat baik, semua orang bisa berkurban, semua orang bisa melayani, dengan sepenuh tenaga dan seluruh waktunya. Tapi bagi seorang kristiani, kebaikan, pelayanan dan pengurbanan itu akan menjadi sia-sia tanpa didasari akan iman kepada Kristus yang adalah teladannya. Salah satu kata kunci ialah pelayanan, pengurbanan dengan sepenuh hati berdasar pada panggilan kristiani, yaitu sesuai dengan ajaran dan ajakan Kristus Tuhan. Melayani, berkurban semata-mata demi kebahagiaan orang lain, berkurban dan melayani semata-mata karena ketaatan pada perintah Kristus Tuhan, dan pelayanan serta pengurbanan yang dibuat berdasar kesetiaan pada tekad dan janji diri sendiri.

Salah satu contoh yang sangat indah dalam hidup ini ialah sikap “mau memaafkan dan mengampuni kesalahan” orang lain dengan sepenuh hati sehingga terjadi rekonsiliasi baik, dengan diri sendiri, dengan sesama maupun terutama dengan Tuhan. Suatu langkah awal yang paling indah ialah mau memaafkan dan memaafkan. Seperti Tuhan sudah lebih dahulu memaafkan demikian pula para murid-Nya mau saling memaafkan. Hasil Sinode GMIM ke 75 merupakan bukti nyata yang pantas kita syukuri bersama. Itulah “injil” Tuhan yang sungguh konkrit. Semoga sungguh menjadi lebih kabar gembira yang membahagiakan semua warga. (* Ketua Yayasan Pendidikan Katolik dan Ketua Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Manado)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s