MURI MANIA ALA MINAHASA

MURI Mania ala Minahasa (Kiriman *CHRISTY MANARISIP)

Christy Manarisip

SAYA lagi duduk termenung membayangkan negeri ini, Minahasa. Kali ini bercerita negeri yang terkena penyakit MURI. Ya, Museum Rekor Indonesia yang digagas Jaya Suprana.

Betapa tidak, hampir setiap bulan ada saja yang dimasukkan dalam rekor MURI, yang kejadiannya terjadi di Minahasa. Beberapa waktu lalu, kolintang, musik bambu, biapong dan yang paling gress salak yang di-MURI-kan. [….]

Katanya sih, dengan membuat sesuatu yang “spektakuler” otomatis akan menjadi suatu ingatan yang abadi. Itulah sebabnya, beberapa wilayah di provinsi Sulawesi Utara selalu berusaha membuat sesuatu ”karya” yang layak untuk dimasukkan dalam MURI. Apalagi, kalau kegiatan tersebut sudah dikaitkan dengan kebudayaan dan pariwisata. Dengan demikian legitimasinya menjadi kuat.

Saya justru melihat dari angle yang berbeda. Mengapa tidak pemerintah mengedepankan dahulu yang hal-hal yang sifatnya untuk masyarakat, untuk orang banyak. Misalnya pemerintah menaikkan mutu pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang tinggal di pedesaan, di daerah terpencil. Bukankah dengan cara demikian, akan banyak bermanfaat bagi masyarakat Minahasa.

Atau juga bisa, menyiapkan dana khusus untuk pembangunan gedung sekolah dasar di beberapa daerah yang masih terisolasi di Minahasa Tenggara, atau Minahasa Selatan. Media setempat, melaporkan beberapa desa yang infrastruktur jalan yang rusak berat dan bertahun-tahun tidak dijamah dengan dana pembangunan jalan.

Akibatnya, penduduk setempat mengalami kesulitan untuk keluar beraktifitas di luar kampungnya. Anak sekolah kesulitan untuk pergi melanjutkan sekolah, orang sakit harus ditambah menderita selama perjalanan, petani kesulitan memasarkan hasil panen, dan setumpuk permasalahan yang memberatkan rakyat.

Wahai pemimpin, dimana engkau? Saya tertunduk sedih melihat gaya kepemimpinan beberapa bupati di tanah Minahasa. Kebanyakan hanya sekedar mengejar popularitas dengan menggelar kegiatan yang ujung-ujungnya sekedar menggapai rekor yang kemudian dibukukan oleh MURI. Mengapa tidak mengembangkan kegiatan yang sifatnya membangun pendidikan, pelayanan kesehatan atau kegiatan lainnya yang ditujukan untuk masyarakat.

Hedonisme ditunjukkan dengan kendaraan mewah kelas jeep bersilinder besar. Padahal rakyat tengah mengalami berbagai kesulitan. Untuk sementara waktu berhentilah dengan berbagai penghargaan MURI, berpaculah dengan tindakan nyata untuk membangun rakyat. Semoga! (* Kolumnis/Tuama Minahasa)
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s