Mendur Bersaudara, Pahlawan Pers yang Nyaris Terabaikan

Sembilan Februari 2016 lalu, seluruh insan pers Indonesia kembali merayakan Hari Pers Nasional (HPN) ke-31, yang kali ini dipusatkan pelaksanaannya di Lombok, Nusa Tenggara Barat.   Berkaitan momen yang bernilai historis bagi para jurnalis di tanah air tersebut, tak ada salahnya bila mengenang kembali pelaku-pelaku sejarah dalam dunia kewartawanan kita yang nyaris terlupakan. […..]

Khusus di Sulawesi Utara, yang sejak masa perjuangan menuju kemerdekaan hingga sekarang telah banyak memberikan kontribusi dalam perkembangan pers nasional, juga memiliki tokoh-tokoh jurnalistik yang patut diteladani generasi kini.

Diantaranya, 2 bersaudara dari Tanah Toar Lumimuut yang berjasa dalam mengabadikan momen monumental pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.

Keduanya, tak lain adalah Alex dan Frans Mendur, yang -ironisnya- hampir saja terabaikan oleh negara.  Meski sudah memberikan sumbangsih melalui hasil karya mereka yang menjadi dokumentasi penting bagi negeri tercinta, sampai ajal menjemput, tak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Nanti puluhan tahun setelah kakak beradik pewarta lewat foto ini tiada, baru lah penghargaan yang layak diterima oleh ahli waris.   Tepatnya, pada tanggal 9 November 2009 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menganugerahkan kedua fotografer pejuang itu dengan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama.   Dan, bertepatan peringatan HPN ke-28 tahun 2013 di Manado, SBY menandatangani prasasti Monumen dan Museum Mendur Bersaudara. Tugu Pers Mendur yang berupa patung Alex dan Frans, serta bangunan rumah adat Minahasa berisi 113 foto karya mereka ini, terletak di tempat kelahiran mereka di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa.

Nah, untuk lebih mengenal lebih dekat riwayat dan jasa-jasanya, berikut adalah rangkuman dari berbagai sumber.

Alex lahir pada tahun 1907 dengan nama lengkap Alexius Impurung Mendur, sedangkan sang adik, Frans Sumarto Mendur menyusul 6 tahun kemudian (1913).  Frans belajar fotografi dari Alex yang terlebih dahulu menjadi wartawan di Java Bode, sebuah koran berbahasa Belanda di Jakarta.  Frans pun mengikuti jejak sang kakak menjadi jurnalis foto pada tahun 1935.

Ketika memasuki hari yang bersejarah dalam perjuangan bangsa merebut kemerdekaan -tepatnya, Jumat pagi 17 Agustus 1945-, keduanya mendengar kabar dari Harian Asia Raya, bahwa akan ada kejadian penting di kediaman Soekarno.   Jarum jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, mereka menuju tempat tujuan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Cikini, dengan mengendap-endap sambil membawa kamera.

Kendati pihak penguasa dan sekaligus penjajah, Jepang telah mengakui kalah terhadap sekutu beberapa hari sebelumnya, namun kabar ini belum meluas kepada masyarakat indonesia.   Radio masih disegel, dan tentara negeri Matahari Terbit itu, masih berkeliaran dengan senjata lengkap.

Saat Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan indonesia melalui upacara yang dilaksanakan dengan sederhana, hanya Mendur bersaudara yang hadir sebagai fotografer untuk mengabadikan momennya.

Frans berhasil mendokumentasikan tiga sesi penting, dari 3 frame film yang tersisa.  Foto pertama, Soekarno membaca teks proklamasi.   Kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air).   Dan, ketiga, suasana upacara dengan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.

Usai upacara, keduanya bergegas meninggalkan kediaman Soekarno.   Namun, tentara Jepang yang mengetahui kejadian tersebut, langsung memburu mereka.   Alex tertangkap, dan foto-foto yang ada padanya, disita dan dimusnahkan.

Tapi, beda cerita dengan Frans yang berhasil lolos.  Negatif film yang baru saja mengabadikan peristiwa bersejarah itu, dikuburkannya kedalam tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor Harian Asia Raya.   Ketika tentara Jepang mendatanginya, dia berkilah, klisei nya sudah diambil Barisan Pelopor.

Meski frame filmnya selamat, namun perjuangan belum selesai, karena untuk mencetaknya tidak mudah.   Mendur brothers harus menyelinap diam-diam dan melompati pagar pada malam hari di samping kantor Domei yang sekarang berubah menjadi Kantor Berita Antara.   Risiko bagi keduanya jika tertangkap tentara Jepang adalah penjara, bahkan, hukuman mati.

Tanpa hasil karya yang mahal nilainya itu, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan dalam bentuk foto.   Alhasil, berita proklamasi kemerdekaan pun hanya ditulis singkat tanpa foto -karena sudah disensor penguasa- di Harian Asia Raya, 18 Agustus 1945.

Setelah peristiwa tersebut, sekitar bulan September 1945, fotografer-fotografer muda Indonesia yang pernah bekerja pada kantor Domei di Jakarta dan Surabaya mendirikan biro foto di Antara.
Tepat 1 Oktober 1945, BM Diah dan wartawan-wartawan eks Harian Asia Raya merebut percetakan De Unie dan mendirikan Harian Merdeka.   Alex pun pindah ke koran harian itu.   Foto bersejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia karya Frans, akhirnya baru bisa dipublikasikan pertama kali pada 20 Februari 1946 di halaman muka Harian Merdeka.

Setahun kemudian, Frans dan Alex Mendur menggagas pendirian Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) bersama kakak-beradik Justus dan Frank “Nyong” Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda.   IPPHOS berkantor di Jalan Hayam Wuruk Nomor 30, Jakarta, sejak berdiri 2 Oktober 1946 hingga 30 tahun kemudian.

Foto monumental karya Alex adalah pidato Bung Tomo yang berapi-api di Mojokerto tahun 1945, yang sering dianggap terjadi di hotel Oranje, Surabaya.   Hasil karya lain Frans, diantaranya foto Soeharto yang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman pulang dari perang gerilya di Yogyakarta, 10 Juli 1949.

Momen tak kalah nilai historisnya, tatkala Soekarno kembali dari pengasingan di Yogyakarta ke Jakarta, 29 Desember 1949.   Alex berdiri di tangga Istana Rijswijk (sekarang Istana Merdeka) disaat ribuan manusia menyemut bersiap menyambut kedatangan presiden pertama RI.   Dia mengambil posisi tepat di depan podium tempat sang proklamator berpidato.   Hari itu, dirinya tak sendirian bertugas.  Di susur tangga istana lainnya di lokasi yang sama, Frans Umbas juga bersiap mengabadikan momen bersejarah tersebut, dengan kamera Bush-Pressman 6×9 yang baru dibelinya dari fotografer Johnny Waworuntu.

Ketika Soekarno dan rombongan tiba, mereka bergerak cepat memotret peristiwa itu. Hasilnya adalah beberapa foto presiden di antara lautan manusia dengan beragam sudut pandang.  Foto-foto gegap-gempita rakyat yang menyambut kedatangan Soekarno ke Jakarta inilah yang ikut dipajang pada pameran bertajuk “Dari Pegangsaan sampai Rijswik” di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta, 19 Agustus hingga 19 September 2011 lalu.

Kala di awal masa kemerdekaan, nama Mendur bersaudara sudah terkenal di mana-mana.  Keberadaan mereka diperhitungkan media-media asing.   Namun, keduanya dan IPPHOS tetap idealis untuk loyal kepada ibu pertiwi.   Padahal, secara etnis Minahasa, sebenarnya Frans & Alex bisa saja dengan mudah merapat ke Belanda.   Mereka tetap independen, di saat kesempatan terbuka luas untuk meraup lebih banyak uang dengan bekerja di media luar negeri.

Di masa tua hidupnya, Frans Mendur pernah menjadi penjual rokok di Surabaya.   Dan, pada tanggal 24 April 1971, beliau meninggal dunia dalam sepi di RS Sumber Waras Jakarta.   Begitu pula dengan Alex yang tutup usia pada tahun 1984 dalam keadaan serupa.   Hingga akhir ajalnya, mereka belum pernah menerima penghargaan apapun dari negara.  Bahkan, konon, jasad keduanya pun ditolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Syukurlah, pada 9 November 2009, Presiden BY menganugerahi penghargaan Bintang Jasa Utama kepada mereka berdua.   Tugu Pers Mendur di Kawangkoan, menjadi monumen pengingat generasi sekarang dan berikutnya, bahwa di bumi Nyiur Melambai ini ada pahlawan pewarta lewat foto yang berjasa bagi bangsa dan Negara.  (revman/WL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s