MASIH RELEVANKAH PERMESTA DICAP PEMBERONTAK? Mengenang Peristiwa 2 Maret 1957 Seperti Lebah Madunya Diambil, Sarangnya Dibakar.

Dua Maret 1957, tepat 59 tahun silam, sepermesta-kembali-ke-pangkuan-ibu-pertiwi-ZInkTIUeMkbuah peristiwa penting berlangsung di Makasar. Subuh hari itu sejumlah 52 tokoh penting dari berbagai unsur potensi bangsa di kawasan Indonesia bagianTimur, mengambil prakarsa yang cukup berani, mengikrarkan sebuah tekad yang dituangkan dalam sebuah resolusi yang dinamakn Piagam Perjuangan Semesta. Piagam itulah yang kemudian menjadi popular dengan akronim PERMESTA. Penandatangan Piagam ini terdiri dari para perwira militer, pejabat pemerintahan sipil, para pemuka masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat, baik lembaga social maupun organisasi politik. […..]

Resolusi ini bisa saja sekedar menjadi aksara mati di atas kertas, yang kemudian lenyap dilupakan begitu saja, seiring bergulirnya waktu, seandainya tidak dibarengi dengan aksi nyata berupa crash program pelaksanaan resolusi tsb. Lebih lagi piagam tsb terkesan gegap gempita, karena dideklarasikan dengan menggunakan isitilah proklamasi yang bernada revolusioner pada zamannya. Ditambah pula yang menjadi tricker resolusi itu adalah the man behind the gun, H.N.Sumual. Ia tokoh militer yang nota bene memiliki kekuasaan sebagai Panglima Territorium VII/Wirabuana meliputi wilayah luas Indonesea bagian Timur, termasuk wilayah Irian Barat (Papua Barat) yang di kala itu secara defacto masih dikuasai kolonial Belanda. Di masa itu memang masih segar dalam catatan sejarah, wilayah ini pernah diklaim sebagai wilayah Negara Indonesia Timur (NIT) di zaman RIS (Republik Indonesia Serikat) usai penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia di bulan Desember 1949. Bebarapa factor inilah yang agaknya, memicu kecurigaan pemerintah RI, bahwa gerakan PERMESTA mengarah ke tindakan separatisme yang cukup menggegerkan dan karenanya patut diwaspadai.

Apalagi crash program pelaksanaan Piagam tsb, dinilai inkonstitusional karena menohok kebijakan politik ekonomi pemerintah pusat, yaitu melakukan barter kopra dengan luar negeri. Terlepas dari cita cita luhur crash program tsb sebagai tindakan by pass untuk akselerasi peningkatan kesejaheraan masyarakat di daerah, tindakan ini dianggap sebagai deviasi atas kebijakan devisa Negara di bidang perdagangan, export import. Dengan kata lain dikategorikan penyuludupan terang terangan yg secara hukum dianggap illegal. Bagi rakyat di wilayah Indonesia Timur tentu saja, kebijakan ini disambut dengan tempik sorak, karena realitas kemerdekaan bangsa seakan baru mulai dinikmati, lewat akselerasi pembangunan yang begitu cepat mulai digalakkan melalui berbagai infrastruktur dari hasil barter kopra dengan luar negeri. Patut dipahami bahwa, usia kemerdekaan RI saat itu sudah mencapai bilangan 12 tahun dihitung sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, atau 8 tahun sejak resmi penyerahan kedaulatan oleh pemerintah colonial Belanda, pada bulan Desember 1949. Pada kurun waku itu, rakyat yang masih dihinggapi euforia kemerdekaan bangsa, tentu saja tak sabar ingin menikmati makna kemerdekaan itu. Sementara itu, kondisi Negara yg masih berlandaskan UUDS 1950, selama ini hanya berkutat pada percaturan politik dalam iklim demokrasi liberal. Partai politik yg diberi kebebasan tumbuh bagaikan cendawan dimusim hujan, masing masing bersaing memperjuangkan program dan platform serta idiologi partainya guna menjadi landasan konstitusi dan haluan Negara. Akibatnya Dewan Konstituante hasil pemilu 1955 gagal membentuk UUD difinitif utk RI. Di lain pihak akibat suhu politik yang terus memanas ditandai jatuh bangunnya Kabinet Parlementer yg silih berganti terkena mosi tidak percaya, berdampak negative bagi kepentingan rakyat, menjadi terabaikan. Ekonomi bangsa terpuruk berat, pembangunan mandek dan rakyat sangat menderita. Kebutuhan pokok sehari hari saja harus dijatah, lewat sistim antre untuk mendapatkannya.Stok beraspun sering hilang dari pasaran, diganti dengan bulgur, yaitu sejenis gandum yang menjadi makanan ternak di luar negeri. Iklim ekonomi seperti ini dimanfaatkan oleh PKI, yg gigih dengan agitasi propagandanya, menyodorkan paham komunisme lewat kampanye populer “sama rata dan sama rasa” sehingga partai ini cukup mendapat dukungan rakyat kecil, menjadi partai pemenang empat besar pada Pemilu pertama 1955.

Kondisi Negara yang morat marit ini, dimata para pejuang Revolusi fisik 1945 yang pada umumnya , sudah menjadi perwira TNI dan menduduki posisi penting dalam bidang kemiliteran, dianggap mengecewakan bahkan menimbulkan frustrasi. Bisa dipahami selain karena jiwa juang mereka masih segar, para perwira ini rata rata masih berusia relative muda. Di dalam benak mereka ada obsesi yang belum terwujud, yaitu ingin melihat kemakmuran dan keadilan di tanah air tercinta selepas dari penjajahan, karena demi itulah mereka telah mempetaruhkan jiwa raga dalam revolusi fisik. Melihat kendala yang ada ialah kemelut politik yang ditimbulkan para politisi, para perwira TNI yang berlatar belakang pejuang ini, termotivasi untuk mengambil langkah bypass. Itulah yang menjadi latar belakang munculnya berbagai gerakan di daerah daerah pada zaman itu, seperti Dewan Gajah, Dewan Banteng, di Sumatera, Lambung Mangkurat di Kalimantan, dll, termasuk PERMESTA di wilayah Indonesia bagian timur.
Pemerintah Pusat, di kala itu bukannya tidak megambil tindakan bijak. Upaya persuasive sempat dilakukan dengan diselenggarakannya Musyawarah Nasional dilanjutkan dengan Musyawarah Nasional Pembangunan di Jakarta utk mengakomodir aspirasi daerah daerah bergolak, guna dijadikan program pembangunan nasional. Namun upaya persuasive ini mengalami jalan buntu, ketika terjadi Cikini Affair di Jakarta yaitu percobaan pembunuhan terhadap Presiden Ir Soekarno, dengan tindakan penggranatan. Entah apakah aksi terror ini sengaja direkayasa pihak tertentu untuk menggagalkan jalannya Munas dan Munap, yang jelas jalannya sejarah Indonesia waktu itu, mulai memasuki tikungan berbahaya. Para perwira dari daerah bergolak termasuk Vence Sumual cs, dicurigai oleh pihak inteligen sebagai otak dari tindakan maker ini, dan karenanya masuk daftar persona non grata, bahkan dianggap disersi dalam korps militer.

Berlanjut dengan tampilnya PRRI (Pemerintah REvolusioner Republik Indonesia) di Bukit Tinggi- Sumbar, dimana Vence Sumual diangkat menjadi KSAD, awal tahun 1958 situasi darurat perang tampak tak bisa dielakkan lagi..Keadaan bertambah runyam ketika Letkol D.J. Somba yang memangku jabatan KDM SUT (Komando Daerah Militer Sulawesi Utara Tengah) merangkap Gubernur Militer Sulutteng versi PRRI, atas desakan para tokoh militer dan politik di daerah ini, tanpa berkonsultasi dengan H.N.Sumual mengambil tindakan memutuskan hubungan dengan Pemerintah RI di Jakarta, dan menyatakan mendukung PRRI di Padang. Pernyataan yg diadakan tgl 17 Februari 1958 dalam sebuah apel akbar di lapangan Sario Manado, 5 hari kemudian tgl 22 Februari 1958 mendapat tanggapan hangat, berupa pengeboman oleh pesawat AURI di beberapa lokasi vital di kota Manado. Sejak itu bangkitlah semangat dan heroisme putra putri Sulawesi, terutama Minahasa, untuk membela kehormatan daerahnya. Dan semangat seperti ini tidak bisa dituduh sebagai tindakan sukuisme, karena secara manusiawi hal itu pasti akan terjadi di daerah manapun jika mengalami hal serupa. Tidak heran beberapa putra Daerah Minahasa, serperti Kolonel TNI Alex Kawilarang yg sedang menduduki posisi penting sebagai atase Militert di Whashington DC tanpa ragu segera meninggalkan posnya utk bergabung membela Permesta. Demikian juga Kolonel J.F.Warouw atase militer di Peking, mengambil langkah serupa, mengorbankan karir mereka, demi menegakkan kebenaran dan keadilan.

Itulah selayang pandang awal kisah, pergolakan yang terjadi di Sulawesi Utara, berlangsung selama lebih dari tiga tahun, berupa perang saudara antara pihak TNI dan pejuang PERMESTA. Pergolakan ini kemudian dicatat dalam sejarah Indonesia dengan sebutan Pemberontakan PRRI/Permesta, yang hingga sekarang masih menimbulkan silang pendapat di kalangan generasi muda. Pergolakan itu sendiri telah berakhir lewat jalan perundingan damai yang puncaknya adalah upacara penandatanganan Perdamaian Malenos tgl 4 April 1961 antara Pasukan Aprev/Permesta dengan pihak TNI, disusul dengan diterbitkannya amnesty abolisi oleh Presiden RI Soekarno, bagi semua yang pernah terlibat dalam gerakan ini.

Peristiwa itu sudah berlalu 59 tahun silam. Namun hingga sekarang masih menimbulkan simpang siur pendapat terutama di kalangan generasi muda. Cap Permesta sebagai pemberontak masih terus ada hingga sekarang. Resim pemerintah sudah silih berganti, mulai dari Resim Orde lama, ke resim Orde baru, dan beralih ke era Reformasi. Yang menjadi persoalan, setelah mencermati substansi dari Piagam Perjuangan Semesta serta sejarah yang mengikutinya, apakah masih relevan peristiwa itu disebut pemberontakan, sementara programnya sendiri banyak yang telah diakui bahkan diadopsi menjadi program nasional. Dapat dikatakan perjuangan Semesta ini (PERMESTA) sebenarnya adalah pelopor reformasi, walaupun belum sepenuhnya apa yang menjadi cita cita PERMESTA sudah terwujud. Tuntutan pemerataan pembangunan di seluruh daerah Nusantara, masih jauh dari harapan. Keadilan belum terwujud, malahan perjuangan nasional semakin digerogoti maraknya peraktek korupsi, serta kemelut politik serta dekandensi moral, yang menghambat terwujudnya keadilan dan kemakmuran bangsa yg jadi cita cita luhur dan utama, kemerdekaan itu.

Dengan tampilnya Jokowi sebagai Presiden RI ke 7 didampingi Yusuf Kala sebagai Wapres, terbersit harapan baru, bagi eksponen Permesta, kiranya stigma negative sejarah dimana Permesta dianggap sebagai pemberontak, dapat dieliminasi dan direhabilitasi martabatnya, tidak hanya bagi kepentingan nama baik para pelakunya, tetapi juga bagi generasi muda penerus. Optimisme ini muncul, mengingat dan melihat kearifan dan gaya kepemimpinan Jokowi yang cepat dan tegas dalam tindakan serta akurat dalam mengambil kebijakan, meluruskan berbagai hal yang bengkok, dan memperbaiki yang keliru menyangkut kemajuan bangsa sesuai tuntutan dan perobahan zaman. Demikian juga di daerah Provinsi Sulawesi Utara, yg dalam banyak hal sangat terdampak luas oleh sejarah Permesta 59 tahun silam, sehingga effeknya masih bergaung hingga kini, sangat memerlukan kearifan Gubernur Olly Dondokambey beserta pasangannya Wagub Steven Kandow, untuk dapat mengambil suatu kebijakan positif yang bernilai di dalam mengapresiasi perjuangan yang bersejarah ini.

Sekarang ini, para pejuang Piagam Perjungan Semesta, semakin hari semakin berkurang jumlahnya karena hukum alam, sudah dimakan usia. Bahkan yang termasuk kategori pimpinan semua telah almarhum. Namun dalam jiwa yang tertanam di dalam tubuh tubuh tua renta para pejuang yang masih tersisa dan eksis, semangat juang Permesta tetap hidup dan membara. Ada obsesi terpendam di dalam benak para pejuang ini. Sebelum generasi ini berlalu lenyap ditelan waktu, ada claim mereka kepada Ibu Pertiwi. “Jikalau Piagam Perjuangan Semesta dianggap benar, pulihkanlah nama baik pelakunya”. Jangan biarkan pejuang pejuang yang telah berkorban untuk kepentingan kemajuan bangsa dan Negara, dikutuki lintas generasi hanya karena goresan sejarah hitam yang keliru dan tidak pernah diluruskan. Kutukan bisa menjadi boomerang apabila kebenaran disembunyikan apalagi direkayasa. Para pelaku PERMESTA selama ini mengalami nasib seperti lebah yg dianggap penyengat. Madunya diambil tapi sarangnya dibakar. Tidak bisa dibantah bahwa generasi muda sekarang, sedang menikmati hasil jerih juang para pelaku PERMESTA. Banyak yg tidak sadar bahwa jabatan dan posisi penting yang mereka duduki, adalah hasil pengorbanan pejuang PERMESTA. Antara lain otonomi daerah yang seluas luasnya, berdirinya perguruan tinggi dimana mana, terbentuknya Lembaga DPD (Senat). Tegaknya idiologi Pancasila sebagai dasar konstitusi negara dan falsafah hidup bangsa,serta banyak lagi kemajuan yg dicapai. Semua itu melalui pengorbanan jiwa raga para pejuang PERMESTA. Tidak sedikit diantaranya yang rela gugur demi kebenaran dan keadilan. Itulah inti dari pelaku PERMESTA. ***

Tomohon, 1 Maret 2016
Phill.M.Sulu wartawan seniPhil M Suluor Sulut,
Penulis buku : PERMESTA Jejak Jejak Pengembaraan, Pustaka Sinar Harapan Jkt 1997.
PERMESTA, dalam Romantika, Kemelut dan Misteri, Gramedia Pustaka Utama, Jkt 2011
PERMESTA : Commando Sea Bird (naskah-2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s