Sulut Rawan Bom

 

  • Terbaru, Mortir Perang Kemerdekaan Ditemukan di Lopana

Amurang, CS – Perang kemerdekaan menyisahkan sejumlah bukti otentik. Bukti otentik tersebut diantaranya, Bom Mortir yang ditemukan masyarakat Minahasa Selatan di Desa Lopana, Kecamatan Amurang Timur. Bom Mortir tersebut, berukuran sepanjang 30 sentimeter dengan diameter 8 sentimeter dalam kondisi berkarat.[….]

Bom Mortir ini diduga kuat merupakan peninggalan saat perang sebelum kemerdekaan. Benda ini langsung diamankan oleh pihak Kepolisian Resort Minahasa Selatan dan langsung diteruskan di Markas Besar Kepolisian Daerah Sulut untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolsek Rural Amurang, AKP Arie Prakoso, SIK., kepada sejumlah wartawan menjelaskan, pihaknya sudah meminta kepada tim Gegana untuk melakukan pemeriksaan terkait keberadaan bom dimaksud. “Hal ini dilakukan untuk memastikan keberadaan bom mortar dimaksud. Tentu jika diketahui benda tersebut masih aktif akan dilakukan langkah prefentif agar tidak membahayakan,” jelas Prakoso.

Sementara di tempat terpisah, Joppi Mongigir (56) penemu Bom Mortir, kepada Harian Cahaya Siang menceriterakan kronologis ditemukannya benda berbahaya tersebut. Menurutnya,  Bom Mortir itu ditemukannya saat sedang melakukan aktifitas diperkebunannya.

“Saat sedang mencangkul di kebun, tiba-tiba cangkul yang digunakan seperti menyentuh sebuah benda keras. Awalnya, saya berpikir kalau benda keras tersebut hanyalah batu biasa. Namun setelah digali dan diperhatikan, ternyata benda tersebut menyerupai Bom Mortir. Merasa kaget, saya langsung memanggil beberapa teman untuk melihat apa yang saya temukan ini. Akhirnya, kami meneruskan informasi ini ke pemerintah setempat dan beranjut ke pihak Polsek Amurang,” tutur Joppy.

Penemuan yang sama, terjadi pada Senin, 19 Oktober 2015 lalu. Diberitakan, warga Kecamatan Modoinding, sekitar pukul 13.00 Wita digemparkan dengan penenemuan satu buah bom mortir aktif di ladang perkebunan Desa Palelon. Mortir tersebut ditemukan seorang petani Desa Wulurmaatus saat sedang bekerja.

Bom ditemukan Raffi Walukow (23) saat sedang menggali tanah membuat bedeng untuk ditanami sayur. Namun saat menggali cangkul yang digunakannya berbenturan dengan benda keras. “Pertama kali saya pikir batu. Tapi setelah saya lihat ternyata sebuah bom,” kata Raffi saat memberi keterangan ketika itu.

Sementara pada 01 September 2014, penemuan Bom aktif juga terjadi di Amurang. Hari pertama di bulan September, sekitar pukul 16.30 warga Amurang dikejutkan dengan penemuan bom aktif peninggalan perang dunia. Anto, warga desa Lolak yang saat itu sedang bekerja sebagai operator alat berat dalam proyek pelebaran jalan trans Sulawesi, terkejut ketika tanpa sengaja alat berat yang sedang dioperasikannya menyentuh sebuah benda yang kemudian diketahui adalah sebuah bom aktif.

Terkejut dengan penemuan tersebut, para pekerja proyek langsung melaporkan kejadian tersebut kepihak kepolisian maupun pihak TNI. Tak menunggu waktu yang lama petugas keamanan langsung terjun kelokasi penemuan bom aktif yang berada di Kelurahan Ranomea Kecamatan Amurang Timur.

Begitu tiba di tempat penemuan bom dan memastikan bahwa bom tersebut masih dalam keadaan aktif, pihak kepolisan langsung memasang garis polisi. Aparat TNI yang berada di tempat tersebut mengatakan bahwa diperkirakan bom aktif tersebut mempunyai panjang 125cm dengan lingkaran sekitar 40cm.

Penemuan serupa juga terjadi di Kelurahan Tingkulu Lingkungan II, Kecamatan Wanea. Peladak jenis mortir yang masih aktif ini, pertama kali ditemukan oleh seorang tukang gali pada Sabtu (14/05/2014) sekira pukul 14.10 Wita.

Menurut pengakuan Rivan Kaligis (26) warga Kelurahan Tumatangtang, Lingkungan VII, Kecamatan Tomohon Selatan, mortir tersebut ditemukannya saat ia sedang bersama keempat rekannya menggali tanah untuk pembuatan tanggul rumah. Saat penggaliannya sudah dalam, ia menemukan motir dengan panjang 33 cm dan diperkirakan berat hampir 6 Kilogram, berwarna kuning dengam posisi berdiri.

Sebelumnya, 11 Juni 2013, mortir aktif juga ditemukan warga di Manado saat sedang menggali talud (pondasi) penahan tanah. Mortir berukuran panjang sekitar 25 cm dan memiliki diameter 6 cm, dengan lingkar berkisar 15 cm dan terdapat garis merah tersebut, diduga merupakan peninggalan zaman perang Permesta. Menurut saksi mata, Ramin Hiola (36), mortir itu ditemukannya bersama rekannya Irul (17) ketika sedang bekerja menggali lubang untuk dibuatkan talud penahan tanah di samping rumahnya, di Kelurahan Singkil Satu, Lingkungan VI Kecamatan Singkil. (*/fot/01)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s